Rabu, 04 Januari 2017

Real Life of Japanese (based on true story)






Assalamu’alaikum... Hai!

Ketemu lagi sama tulisan aku (yang masih dibagiin lewat blogspot gini, do’ain aja biar secepatnya bisa lewat website sendiri).

Kali ini aku mau sedikit cerita soal pengalaman di Jepang kemaren. Tapi, aku nggak ada maksud menyombongkan diri ya... Atau sekedar mau bilang ‘Proud of Me’. Aku cuma mau bantuin teman-teman luar biasa yang udah sering keluar-masuk negri orang tapi nggak sempat berbagi pengalaman lewat lisan maupun tulisan. Jadi, aku bantuin nulisnya, tapi diwakilin sama pengalaman aku (yang sedikit) ini aja.

Banyak hal menarik tentang Jepang yang masih aku ingat sampai sekarang. Mungkin aku nggak bisa sempurna dalam menceritakan, tapi semoga aja bisa diambil benang merahnya. Mungkin juga, ada yang nggak sependapat dengan aku soal Jepang. Mohon maaf aja, ya.



Japanese sama sekali nggak ekspresif
Hal yang terlintas di pikiran aku tentang Jepang (selain prestasi mereka yang mengagumkan di bidang keilmuan) adalah tokoh-tokoh anime yang mereka ciptakan. Dalam bayangan aku, kalau udah sampai Jepang aku akan dengar cowok-cowok Jepang itu bilang ‘Sugoii!’ dengan suara parau plus satu jempol yang diacungkan juga ekspresi wajah yang excited gak karuan, sampai-sampai kata ‘Sugoii’ itu kedengarannya jadi ‘Segoiiikk!’ saking ekspresifnya. Aku juga ngebayangin akan ketemu sama  cewek-cewek bermata belo yang ngomongnya super imut dan pipinya memerah kalau udah lihat gebetan. Ternyata nggak. Benar-benar enggak.

Orang Jepang bukan orang yang ekspresif. Mereka pemalu (banget), apalagi sama orang baru. Saking nggak ekspresifnya aku susah bedain mana ekspresi mereka yang lagi senang, sedih, panik, nggak suka, dll. Aku taunya kalau mereka ketawa, itu artinya lagi senang. Selebihnya aku nggak tau lagi mereka sebenarnya sedang ngerasain apa.

Japanese ‘nggak butuh’ bahasa Inggris
Awalnya merasa nggak pede waktu mau berangkat ke Jepang, takut nggak lancar ngomong bahasa inggris karena selama ini berkutat seputar teks aja. Tapi kenyataannya, di Jepang kita nggak terlalu butuh speaking yang bagus. Sebagian besar penduduknya sangat sulit berbicara juga memahami bahasa Inggris, kecuali segelintir orang seperti sensei dan mungkin pejabat negaranya. Mau sekeren apapun kamu ngomong dalam bahasa Inggris, komunikasinya masih cukup susah. Jadi pakai bahasa tubuh kayaknya lebih aman. Mungkin ini akibat mereka hampir punya segalanya, jadi mereka merasa nggak perlu bergantung sama negara lain yang membuat mereka harus berkomunikasi dengan bahasa internasional.

Jujur, 2 atau 3 hari pertama di Jepang aku kelabakan ngobrol dengan mereka termasuk para sensei. Bayangin aja kalau setiap kata dalam bahasa Inggris itu abjadnya diubah dari ‘L’ jadi ‘R’, ‘P’ jadi ‘F’, terus ‘N’ jadi ‘NG’ kalau posisinya di akhir kata. Alhasil kalau sensei bilang sesuatu seperti ‘plant’, aku dengarnya ‘freng’. Gagal paham total. Aku sama salah satu teman aku juga pernah panik dan hampir putus asa pas mau minta kantong belanjaan di supermarket. Cuma buat milih kantong besar atau kantong kecil aja susahnya minta ampun.

Bagi mereka (terutama teman-teman aku di labor), diam lebih baik dari salah bicara. Jadi mereka lebih milih diemin aku daripada salah-salah bicara pakai bahasa Inggris. Tapi mereka baik kok. Buktinya mereka ngerayain ulang tahun aku (yang sebenarnya nggak boleh dirayain) dan ingat sama hal-hal yang aku suka. Mereka juga berusaha kasih aku kesan yang baik dan tak terlupakan, terutama pas jam makan siang. Mereka akan berusaha keras ngomong pakai bahasa Inggris waktu ngajarin aku budaya sama bahasa Jepang, juga bercanda, meskipun harus siap sedia kamus elektronik dan kadang harus gotong-royong dulu buat cari English word yang tepat.

Beda ya sama kita? Kita mah yang penting ngomong, meskipun ternyata isinya kosong.





Japanese sangat menghargai privasi orang lain
Menjadi muslimah dengan cara berpakaian yang kontras di antara masyarakat non-muslim aku kira akan menjadi cobaan yang berat. Kalau di Indonesia aja yang mayoritasnya muslim, cewek berjilbab lebar sering dicemooh, kadang dibilang aliran sesat, gimana dengan negara yang mungkin nggak kenal Islam ini? Awalnya aku kira mereka akan memberikan respon yang buruk terhadap kami. Tapi pada kenyataannya mereka nggak pernah bermasalah dengan hal itu.

Aku yakin mereka penasaran dengan kami. Tapi mereka benar-benar menghargai privasi kami. Jangankan mencemooh, memelototi kami aja nggak pernah. Mereka lebih milih melirik lewat sudut mata atau nggak nanya langsung. Biasanya yang nanya langsung itu Ibu-ibu atau nenek-nenek. Kalau mereka udah nunjuk-nunjuk jilbab sama nyebut-nyebut ‘Nihon go?’, jawab aja ‘Indonesia karakimashita’. Habis itu izin pergi aja, karena kalau tetap stay di tempat, si Ibu atau neneknya akan ngomong terus, nggak peduli kita ngerti atau nggak.

Aku juga ingat waktu kami kuliah lapangan (bukan di lapangan bola ya, tapi di alam). Aku sama sensei ditemenin 2 orang mahasiswa pascasarjana, satu cewek satu cowok. Aku nggak pernah bilang kalau aku nggak bisa disentuh laki-laki, tapi entah kenapa mereka paham aja. Waktu kaki aku nggak nyampe ngelangkahin sebuah sungai kecil, teman cowok aku rela lari-lari ngambil batu yang cukup besar dari tempat yang agak jauh, terus mindahin batu itu ke tengah-tengah sungai biar bisa aku injak, biar sepatu aku nggak basah. Waktu turun dari puncak gunung yang cukup terjal, dia juga rela nginjak lumpur pake sepatu kerennya buat kasih aku petunjuk bagian mana yang bisa diinjak biar nggak kotor. Sedikitpun dia nggak mau sentuh aku, nyodorin tanganpun nggak.

Really, aku meleleh. Benarlah firman Allah dalam Surah Al Ahzab : 59 yang artinya :“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Nah, terus gimana sama kamu yang udah Muslim dari lahir? Masih aja mau sentuhan sama cewek yang bukan muhrim? Dan buat cewek, masih aja nggak mau tutup aurat? Non muslim aja paham. Kamu kapan pahamnya?

Segitu aja ya buat yang seriusnya. Sebenarnya masih banyak banget kejadian tak terlupakan yang ngasih aku pelajaran berharga, tapi kalau diceritain semua di sini bisa kesemutan nih jari. Maybe akan ada part 2-nya kalau aku mood nulis lagi.

Selanjutnya aku mau kasih tau beberapa hal unik yang aku temuin di Jepang. Anggap aja buat lucu-lucuan. Tapi singkat aja ya.

1. ‘Gandengan’
Sepemantauan aku waktu nongkrong di pinggiran kota Tokyo selama hampir 2 jam, sebagian besar cowok Jepang terkategori ganteng. Beda sama ceweknya yang terkategori biasa aja (bukan pendapat aku sendiri ya). Entah kenapa berbanding terbalik sama yang di TV, cowoknya yang kebanyakan biasa aja, ceweknya yang cantik-cantik. Tapi, cowok ganteng gak pernah jalan sendirian. Jalannya ya sama gandengannya, cewek biasa aja. Kalau cowoknya nggak ganteng, dia nggak jalan sama gandengan tapi jalan bareng temen-temen cowoknya.

2. Klakson mobil
Kami jarang banget dengar klakson mobil, sampai-sampai kami mikir mobil di Jepang nggak ada klaksonnya. Sekali aku pernah dengar klakson mobil cuma pas di Tokyo gara-gara ada cewek nyebrang nggak lihat kiri-kanan.
Mungkin ini sebagai bentuk kecintaan mereka pada ketenangan.

3. Hemat listrik (banget)
Satu hal yang bikin aku agak takut waktu di Jepang adalah kegelapannya. Kalau kamu pulang malam, kamu harus siapin mental buat jalan meraba di jalan raya karena sama sekali nggak ada lampu jalan. Gelap banget. Habis itu di asrama ataupun di kampus mereka pakai sistem sensor suhu tubuh (kalau nggak salah). Jadi kalau jalan di koridor sendirian, lampunya hidup pas di kamu aja. Bagian koridor yang udah kamu tinggalin sama yang belum dilewatin akan gelap total, seram. Aku jadi mikir, ini hemat apa pelit?

4. Pegawai Kasir
Kalau kamu belanja di minimarket ataupun supermarket maka kamu akan ketemu dengan pegawai kasir yang seolah-olah terprogram kayak robot. Mereka akan sebutin harga belanjaan kamu satu-persatu, nggak peduli sebanyak apapun itu. Habis itu mereka akan sebutin jumlah uang yang mereka terima dari kamu, jumlah total belanjaan, sama uang kembalian dalam satu tarikan napas. Dan itu full bahasa Jepang. Padahal kita kan bisa baca sendiri di layar monitor sama struknya. Bikin capek aja, ya.
Terus setelah semua prosedur selesai, mereka pasti bilang, ‘Arigatou gozaimasu’ dengan intonasi yang khas.

Udah sekian aja. Semoga tulisan aku bisa menemani malam teman-teman yang sunyi dan penuh tetes hujan ini. Lain kali bisa jadi teman-teman akan punya cerita dan pengalaman sendiri. Mungkin Real Life-nya Arab Saudi, Korea, Turki, Inggris, Cina, atau negara manapun yang ingin teman-teman kunjungi.

Aku tunggu ceritanya, ya.

Oyasuminasai...!