Assalamu’alaikum wr.wb..
Kali ini saya ingin bercerita soal seorang laki-laki yang
cukup memberi insipirasi kepada saya. Ia tidak pernah memberikan saya untaian
kata-kata bijak, bahkan bertemu pun kami tidak pernah. Ia sebaya dengan saya,
kelahiran ’94. Tapi banyak kabar burung yang beredar bahwa ia bahkan lebih tua
setahun dari saya, kelahiran ’93. Ia adalah teman akrab adik saya, sebut saja
namanya Dani. Seorang siswa kelas 2 (XI) di sebuah SMA di desa tempat saya
dibesarkan.
Saya rasa kita semua memiliki pikiran yang sama saat membaca
prolog di atas. Ya, aneh memang. Seseorang yang berumur 21/22 tahun masih duduk
bangku SMA. Padahal seharusnya ia telah berkecimpung dengan dunia perkuliahan,
dunia skripsi, dunia tahun akhir. Tapi saat ini Dani masih sibuk dengan
tugas-tugas sekolah dan teman-teman berseragam putih abu-abu-‘nya’.
Sebelum kita membicarakan tentang
perjuangan Dani, baiknya kita mengetahui sedikit gambaran fisik dari tokoh kita
ini. Saya yakin kita semua tau tentang ciri-ciri fisik para penderita autisme.
Suku apapun mereka, bangsa apapun mereka, kulit hitam ataukah putih, mereka
punya wajah yang hampir serupa satu sama lain, benar? Nah... saya minta Anda
membayangkan Dani memiliki wajah unik seperti itu, tapi dengan mata yang
sedikit lebih ‘belo’. Dani memiliki tubuh yang lebih besar dibanding
teman-teman seangkatannya dan juga punya suara yang terdengar lebih nge-bass (kebapakan). Jika Anda adalah tipe
orang yang suka memperhatikan orang lain secara detail dan suatu ketika punya
kesempatan bertemu Dani, Anda akan mendapati Dani sebagai seorang pengguna ikat
pinggang yang buruk. Ciri khas Dani yang dapat Anda ketahui adalah ia sangat sayang
pada ikat pinggangnya yang bertuliskan ‘JEANS’. Saking sayangnya ia selalu
ingin membaca tulisan ‘JEANS’ itu dengan baik, tak peduli orang-orang
melihatnya memakai ikat pinggang dengan terbalik (tulisan ‘JEANS’ menghadap ke
atas). Adik saya termasuk orang yang paling prihatin kepada Dani karena olokan
teman-temannya masalah ikat pinggang itu. Berkali-kali ia coba pahamkan pada
Dani bahwa caranya memakai ikat pinggang itu salah, tapi Dani tidak pernah
mendengarkan. Ia selalu bangga dengan ikat pinggang ‘JEANS’-nya.
Dani adalah orang yang sangat
gigih. Saya dan juga adik saya (yang nenjadi narasumber tunggal untuk cerita
ini) tidak mengetahui motivasi apa yang dimiliki Dani untuk menyelesaikan pendidikannya
hingga tingkat Sekolah Menengah Atas. Kebanyakan dari anak-anak desa yang
keluarganya juga kurang paham akan pentingnya pendidikan biasanya lebih memilih
berhenti sekolah jika sudah pernah tinggal kelas 2 atau 3 kali. Mereka akan
ikut dengan para pedagang ke Pekanbaru atau sekedar menjadi preman yang setiap hari
minta uang kepada orangtua untuk beli rokok, berbeda dengan Dani. Ia belum
kehilangan semangat belajarnya bahkan setelah tinggal kelas berkali-kali.
Dani harus menghabiskan Rp
20.000,00 dari uang sakunya untuk pulang-pergi ke sekolah dalam satu hari. Jika
beruntung, ia boleh membayar Rp 7.000,00 saja untuk sampai ke sekolah, itupun
kalau menumpang dengan ojek langganan. Jika sedang tidak ada uang untuk pulang,
Dani tidak segan-segan berjalan kaki di bawah terik matahari untuk sampai ke
rumah. Untunglah, akhir-akhir ini saya dengar Dani mendapat tumpangan dari
tetangganya yang baru saja pindah ke sekolah yang sama.
Dani, dengan segala keunikannya
menjadi ‘mangsa’ olokan bagi teman-temannya. Tidak hanya soal ikat pinggang,
Dani pernah diolok habis-habisan karena rangkingnya di kelas. Ia menempati
rangking terakhir, rangking 25 dari 25 orang siswa. Tapi taukah Anda apa yang
dilakukan Dani untuk membalas olokan itu? Ia belajar dengan sekuat tenaga,
membuat tugas sekolah dengan sekuat tenaga, memahami segala sesuatu dengan
sekuat tenaga, hingga akhirnya ia berhasil meloncat dari rangking 25 ke
rangking 23, mengalahkan dua orang yang tadinya adalah ‘pengolok-olok’
setianya.
Seseorang pastinya akan lebih kuat
menghadapi kehidupan yang keras jika didukung oleh orang-orang yang ia cintai,
tapi tidak dengan Dani. Saya sendiri bingung dengan semangatnya yang bahkan
mengalahkan semangat orang-orang yang diberi keberuntungan lebih oleh Allah,
padahal ia tidak begitu mendapat dukungan bahkan dari keluarga terdekat.
Contohnya saja, pernah suatu ketika Ayah Dani datang ke sekolah untuk menjemput
rapor Dani. Ada denda Rp 5.000,00 yang harus dibayar (mungkin denda untuk
ketidakhadiran saat classmeeting atau
semacamnya) sebagai syarat pengambilan rapor. Wajarnya seorang anak, Dani
meminta uang itu pada ayahnya demi menghemat uang jajan. Tapi tak sehelai pun
uang yang keluar dari saku ayahnya yang seorang guru olahraga SD itu, padahal
rapor tersebut sudah harus diambil. Akhirnya Dani mengeluarkan beberapa lembar
uang ribuan kucel dan uang koin dari dalam sakunya hingga semua uang jajannya
habis tak bersisa.
Dani juga punya seorang adik
laki-laki yang cerdas, tapi akhlaknya sangat buruk. Adiknya adalah seorang
perokok yang seringkali memalak Dani. Sebagai seorang kakak, Dani tidak absen
menasihati adiknya agar berhenti menghabiskan uang untuk hal yang merugikan
itu. Alhasil, ia diabaikan dan malah diancam oleh adiknya sendiri hanya karena
Dani tidak dianggap sebagai kakak yang normal. Bukan tak pernah Dani malah
memecahkan celengan pribadinya karena tidak sanggup menolak permintaan adik
satu-satunya. Tidak hanya itu, teman-teman Dani yang sekarang telah duduk di
bangku kuliah enggan untuk berkawan dengannya, bahkan sekedar mengucapkan ‘Hai,
Dani!’ hanya karena Dani dianggap tidak normal.
Jadi, apa kesimpulannya?
Kita semua pastilah tidak terlahir
dengan ‘pilihan’ kita sendiri. Siapa yang bisa memilih ia akan lahir sebagai
manusia ber-IQ tinggi? Dan siapa yang pernah berharap ia akan lahir dengan
‘keunikan’ dan ‘keterbatasan’?
Jika Dani membutuhkan usaha yang berkali-kali
lipat lebih keras hanya untuk menyelesaikan pendidikan wajibnya, saya dan Anda
telah berhasil menyingkirkan puluhan orang dengan imipian yang sama untuk 1
kursi yang kita duduki di Perguruan Tinggi Negri. Jika Dani harus berkuras
tenaga hanya demi meloncat dari rangking 25 ke rangking 23 di kelasnya, saya
dan Anda sudah berkuras tenaga untuk berkompetisi dengan orang-orang pilihan
dari berbagai daerah dan berhasil sampai ke titik ini. Jika Dani punya semangat
yang membara meskipun tidak didukung oleh orang yang ia cintai, saya dan Anda
punya keluarga yang memberikan support sepenuhnya
dengan motivasi yang berlimpah-ruah.
Lalu, mengapa kita masih mengeluh? Nikmat
Tuhan yang manakah yang kita dustakan?