Sabtu, 23 Januari 2016

Belajar dari Dani : Siswa kelas 2 SMA kelahiran '93





Assalamu’alaikum wr.wb..

Kali ini saya ingin bercerita soal seorang laki-laki yang cukup memberi insipirasi kepada saya. Ia tidak pernah memberikan saya untaian kata-kata bijak, bahkan bertemu pun kami tidak pernah. Ia sebaya dengan saya, kelahiran ’94. Tapi banyak kabar burung yang beredar bahwa ia bahkan lebih tua setahun dari saya, kelahiran ’93. Ia adalah teman akrab adik saya, sebut saja namanya Dani. Seorang siswa kelas 2 (XI) di sebuah SMA di desa tempat saya dibesarkan.

Saya rasa kita semua memiliki pikiran yang sama saat membaca prolog di atas. Ya, aneh memang. Seseorang yang berumur 21/22 tahun masih duduk bangku SMA. Padahal seharusnya ia telah berkecimpung dengan dunia perkuliahan, dunia skripsi, dunia tahun akhir. Tapi saat ini Dani masih sibuk dengan tugas-tugas sekolah dan teman-teman berseragam putih abu-abu-‘nya’.
Sebelum kita membicarakan tentang perjuangan Dani, baiknya kita mengetahui sedikit gambaran fisik dari tokoh kita ini. Saya yakin kita semua tau tentang ciri-ciri fisik para penderita autisme. Suku apapun mereka, bangsa apapun mereka, kulit hitam ataukah putih, mereka punya wajah yang hampir serupa satu sama lain, benar? Nah... saya minta Anda membayangkan Dani memiliki wajah unik seperti itu, tapi dengan mata yang sedikit lebih ‘belo’. Dani memiliki tubuh yang lebih besar dibanding teman-teman seangkatannya dan juga punya suara yang terdengar lebih nge-bass (kebapakan). Jika Anda adalah tipe orang yang suka memperhatikan orang lain secara detail dan suatu ketika punya kesempatan bertemu Dani, Anda akan mendapati Dani sebagai seorang pengguna ikat pinggang yang buruk. Ciri khas Dani yang dapat Anda ketahui adalah ia sangat sayang pada ikat pinggangnya yang bertuliskan ‘JEANS’. Saking sayangnya ia selalu ingin membaca tulisan ‘JEANS’ itu dengan baik, tak peduli orang-orang melihatnya memakai ikat pinggang dengan terbalik (tulisan ‘JEANS’ menghadap ke atas). Adik saya termasuk orang yang paling prihatin kepada Dani karena olokan teman-temannya masalah ikat pinggang itu. Berkali-kali ia coba pahamkan pada Dani bahwa caranya memakai ikat pinggang itu salah, tapi Dani tidak pernah mendengarkan. Ia selalu bangga dengan ikat pinggang ‘JEANS’-nya.
Dani adalah orang yang sangat gigih. Saya dan juga adik saya (yang nenjadi narasumber tunggal untuk cerita ini) tidak mengetahui motivasi apa yang dimiliki Dani untuk menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat Sekolah Menengah Atas. Kebanyakan dari anak-anak desa yang keluarganya juga kurang paham akan pentingnya pendidikan biasanya lebih memilih berhenti sekolah jika sudah pernah tinggal kelas 2 atau 3 kali. Mereka akan ikut dengan para pedagang ke Pekanbaru atau sekedar menjadi preman yang setiap hari minta uang kepada orangtua untuk beli rokok, berbeda dengan Dani. Ia belum kehilangan semangat belajarnya bahkan setelah tinggal kelas berkali-kali.
Dani harus menghabiskan Rp 20.000,00 dari uang sakunya untuk pulang-pergi ke sekolah dalam satu hari. Jika beruntung, ia boleh membayar Rp 7.000,00 saja untuk sampai ke sekolah, itupun kalau menumpang dengan ojek langganan. Jika sedang tidak ada uang untuk pulang, Dani tidak segan-segan berjalan kaki di bawah terik matahari untuk sampai ke rumah. Untunglah, akhir-akhir ini saya dengar Dani mendapat tumpangan dari tetangganya yang baru saja pindah ke sekolah yang sama.
Dani, dengan segala keunikannya menjadi ‘mangsa’ olokan bagi teman-temannya. Tidak hanya soal ikat pinggang, Dani pernah diolok habis-habisan karena rangkingnya di kelas. Ia menempati rangking terakhir, rangking 25 dari 25 orang siswa. Tapi taukah Anda apa yang dilakukan Dani untuk membalas olokan itu? Ia belajar dengan sekuat tenaga, membuat tugas sekolah dengan sekuat tenaga, memahami segala sesuatu dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya ia berhasil meloncat dari rangking 25 ke rangking 23, mengalahkan dua orang yang tadinya adalah ‘pengolok-olok’ setianya.
Seseorang pastinya akan lebih kuat menghadapi kehidupan yang keras jika didukung oleh orang-orang yang ia cintai, tapi tidak dengan Dani. Saya sendiri bingung dengan semangatnya yang bahkan mengalahkan semangat orang-orang yang diberi keberuntungan lebih oleh Allah, padahal ia tidak begitu mendapat dukungan bahkan dari keluarga terdekat. Contohnya saja, pernah suatu ketika Ayah Dani datang ke sekolah untuk menjemput rapor Dani. Ada denda Rp 5.000,00 yang harus dibayar (mungkin denda untuk ketidakhadiran saat classmeeting atau semacamnya) sebagai syarat pengambilan rapor. Wajarnya seorang anak, Dani meminta uang itu pada ayahnya demi menghemat uang jajan. Tapi tak sehelai pun uang yang keluar dari saku ayahnya yang seorang guru olahraga SD itu, padahal rapor tersebut sudah harus diambil. Akhirnya Dani mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan kucel dan uang koin dari dalam sakunya hingga semua uang jajannya habis tak bersisa.
Dani juga punya seorang adik laki-laki yang cerdas, tapi akhlaknya sangat buruk. Adiknya adalah seorang perokok yang seringkali memalak Dani. Sebagai seorang kakak, Dani tidak absen menasihati adiknya agar berhenti menghabiskan uang untuk hal yang merugikan itu. Alhasil, ia diabaikan dan malah diancam oleh adiknya sendiri hanya karena Dani tidak dianggap sebagai kakak yang normal. Bukan tak pernah Dani malah memecahkan celengan pribadinya karena tidak sanggup menolak permintaan adik satu-satunya. Tidak hanya itu, teman-teman Dani yang sekarang telah duduk di bangku kuliah enggan untuk berkawan dengannya, bahkan sekedar mengucapkan ‘Hai, Dani!’ hanya karena Dani dianggap tidak normal.
Jadi, apa kesimpulannya?
Kita semua pastilah tidak terlahir dengan ‘pilihan’ kita sendiri. Siapa yang bisa memilih ia akan lahir sebagai manusia ber-IQ tinggi? Dan siapa yang pernah berharap ia akan lahir dengan ‘keunikan’ dan ‘keterbatasan’?
Jika Dani membutuhkan usaha yang berkali-kali lipat lebih keras hanya untuk menyelesaikan pendidikan wajibnya, saya dan Anda telah berhasil menyingkirkan puluhan orang dengan imipian yang sama untuk 1 kursi yang kita duduki di Perguruan Tinggi Negri. Jika Dani harus berkuras tenaga hanya demi meloncat dari rangking 25 ke rangking 23 di kelasnya, saya dan Anda sudah berkuras tenaga untuk berkompetisi dengan orang-orang pilihan dari berbagai daerah dan berhasil sampai ke titik ini. Jika Dani punya semangat yang membara meskipun tidak didukung oleh orang yang ia cintai, saya dan Anda punya keluarga yang memberikan support sepenuhnya dengan motivasi yang berlimpah-ruah.

 Lalu, mengapa kita masih mengeluh? Nikmat Tuhan yang manakah yang kita dustakan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar