Sabtu, 28 Mei 2016

Gadis Tanpa Nama



         Namaku Sinta, mahasiswi semester IV di salah satu Fakultas Kedokteran ternama di Indonesia. Aku bukanlah gadis manja yang dengan lapang dada berkutat di sekeliling rumah atau sekedar berkarir di kota kelahiran, tapi aku adalah gadis dengan jiwa petualang. 
       Kala itu bulan September. Aku baru saja memenangkan sebuah perlombaan karya ilmiah tingkat nasional. Aku mempercepat langkahku menuju rumah demi memberitahukan kabar gembira ini kepada keluargaku.
       “Ayah...! Ibu...! Aku menang lagi.” Aku bersorak riang dan memeluk pundak kedua orangtuaku dari arah belakang.
       “Coba ayah lihat.” Ayah mengambil sertifikat dari tanganku lalu mangguk-mangguk takjub bersama ibu. “Alhamdulillah. Kami sangat bangga padamu, nak.” Mereka mengusap-ngusap kepalaku.
       Seribu kali sayang, kebahagiaan ini tidak berlangsung lama. Aku mendengar gemerincing lampu kristal. Aku juga merasakan tanah di bawah kakiku bergerak, semakin lama semakin cepat hingga aku kesulitan untuk berdiri. Kalimat takbir tak hentinya keluar dari mulut ayah dan ibu saat menarik lenganku dan mengajakku untuk segera keluar dari ruangan. Aku pun berlari mengikuti mereka namun Allah berkehendak lain.
       Kakiku terkilir. Segelas air yang tumpah di atas lantai membuatku terjerembab. Aku tidak bisa bergerak sedikitpun. Berkali-kali aku mencoba memanggil kedua orangtuaku yang sekarang sudah berada di tempat yang aman, tapi nihil. Mereka tidak mendengar bahkan tidak menyadari bahwa aku tidak bersama mereka.
       Aku melihat atap rumah rubuh menimpaku, kemudian semuanya menjadi gelap.

       “Ibu... Aku dimana?” tanyaku saat baru saja membuka mata. Ruangan luas ini amat asing bagiku dan tak ada yang kukenali di ruangan ini selain ibu.
       “Kau di rumah sakit, nak.”
       Aku terdiam untuk beberapa saat. Aku tidak ingat apa yang terjadi padaku hingga aku harus tergeletak di sini. Aku juga menyadari bahwa mata ibu sembab dan suaranya tertahan meskipun ia tampak berusaha keras untuk tersenyum.
       Rasa penat tiba-tiba menjalar di punggungku dan memaksaku untuk berdiri. Aku menyibakkan selimut dari tubuhku dan mencoba menurunkan kedua kakiku. Tapi tidak, yang kudapati adalah mimpi buruk.
       “Ibu!!! Ada apa dengan kakiku?” Aku meraung, tidak percaya dengan penglihatanku sendiri.
       “Tidak apa-apa, nak. Semuanya akan baik-baik saja.” Ibuku segera merangkul pundakku dan berusaha menyemangatiku.
       “Apanya yang baik, bu?? Lihat ini!!” Aku memukul-mukul pahaku. “Aku kehilangan kedua kakiku!”
       Ibuku terdiam. Ia hanya bisa menangis bersamaku. Ia terus mengelus-elus rambutku sampai aku tak berdaya lagi mengeluarkan air mata. Aku tau bahwa sepahit apapun aku harus menerima kenyataan ini, tapi otakku menolak.
       Aku terpuruk. Tidak ada lagi yang lebih kubenci selain diriku sendiri dan kursi roda ini.
     Hari-hari terus berlalu tanpa mempedulikan perasaanku. Keputusasaan akhirnya menenggelamkanku dalam kesedihan dan berhasil membawaku ke dalam jurang yang lebih dalam. Aku berpikir bahwa keberadaanku di dunia ini hanya dalam kesia-siaan, karena bagiku hidup tak berguna jika tanpa impian yang bisa diwujudkan. Diam-diam aku mendorong kursi rodaku ke tepi jurang di belakang rumah dan berharap tidak dapat merasakan apa-apa lagi. 
     “Berhenti!!” perintahku pada seorang gadis yang tiba-tiba kulihat berjalan lurus ke tepi jurang. Aku segera membelokkan kursi rodaku ke arahnya lalu menarik tangannya tanpa peduli lagi dengan niatku sebelumnya.
       “Ada apa?” Ia malah bertanya seperti tidak tau apa-apa.
       “Di depan sana ada jurang. Jika kau jalan terus kau bisa mati.” Aku lalu memperhatikannya dengan seksama. “Kau buta?”
       “Iya.” Gadis itu mengangguk dan tersipu malu. “Maaf telah merepotkan.”
       Kami berdua berjalan menjauhi tepi jurang menuju sebuah pondok kecil yang agak jauh dari sini. Aku sampai terlebih dulu di pondok saat rintik hujan mulai turun.
       “Hey! Apa yang kau lakukan di sana? Ayo masuk!” Aku berusaha mengajaknya yang tidak ikut bersamaku.
       “Tunggu sebentar.” Ia malah menengadahkan wajahnya ke langit dan membiarkannya basah. Aku semakin heran melihat tingkahnya. Ia baru berteduh bersamaku saat hujan semakin deras.
       “Suka hujan?” Aku mencoba bertanya dengan seramah mungkin.
       “Sangat suka. Hujan membuat wajahku terasa dingin.” Ia memegangi kedua pipinya.“Kau bisa ceritakan padaku bagaimana rupanya?” Ia bertanya penuh semangat.
       “Kau... Tidak pernah melihat hujan?” Aku gugup sekaligus keheranan.
       “Tidak. Aku buta sejak lahir.”
       Aku tersentak, tidak tau harus berkata apa. Bagiku hujan tidak seberarti ini.    
      “Sebelum hujan turun kau akan melihat awan mendung menggelantung di langit, menutupi matahari hingga membuat semuanya tampak lebih gelap. Ia akan turun perlahan-lahan, sedikit demi sedikit lalu semakin banyak,” jelasku terbata-bata.
       “Benarkah? Lalu pelangi itu seperti apa?” Ia semakin bersemangat.
       Aku berpikir sesaat untuk mencari kata-kata yang tepat. “Ia punya tujuh warna yang tersusun dalam setengah lingkaran dan muncul setelah hujan. Kau tidak pernah bisa melihat kedua ujungnya.”
       “Wahh... Aku tidak sabar melihatnya.” Ia bertepuk-tepuk girang dengan wajah berseri-seri.
       “Kau yakin bisa melihatnya?” Aku bertanya tanpa sedikitpun berniat menghancurkan harapannya.
       “Pasti. Suatu saat. Walaupun sesaat.” Ia tersenyum tanpa menoleh padaku. “Kau punya impian apa?”
       “Aku... Ingin menjadi seorang dokter,” jawabku malu-malu.
       “Wah! Luar biasa. Kau harus semangat, ya! Aku yakin kau tidak akan menyerah dalam kondisi apapun. Lewat tanganmulah Allah akan menyelematkan hamba-Nya.” Ia menepuk pundak kananku.
       Aku tertunduk. Hampir saja aku kalah dari gadis ini. Gadis buta yang hanya bermimpi melihat pelangi. Lihatlah wahai gadis tanpa nama, akulah yang akan mengobatimu kelak.

-THE END-   

Kamis, 26 Mei 2016

Jangan Takut Ditolak (Dekati Dia!)



Assalamu’alaikum wr.wb...

Kayfa haalukum? Semoga kalian semua selalu dalam keadaan sehat
Kira-kira, ada yang merasa tertipu dengan judul di atas? Kalau iya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini bukan soal ‘dia’ yang sering kamu kode di media sosial, bukan soal ‘dia’ yang sedang kamu tunggu, bukan juga soal ‘dia’ yang selalu kamu sebut dalam do’a-do’amu. Ini lebih dari itu. Ini soal ‘Dia’ Sang Maha Segalanya. Kalau kamu nyesel udah buka blog ini (karena ternyata tulisan ini tidak akan membahas soal cinta-cintaan), ya legowo aja. Insya Allah bermanfa’at. ^_^

Saya tergerak untuk menulis tentang ini karena saya rasa beberapa hari ini saya sering mendapatkan ‘keajaiban’. ‘Keajaiban’ yang membuat saya lupa bahwa sebelumnya saya pernah merasa panik, tidak tau jalan keluar, bahkan hampir ingin menyerah. Ia dititipkan Allah pada orang-orang baik di sekitar saya, pada teman-teman dekat maupun pada orang yang baru saya kenal. Masya Allah...

Semuanya berawal dari sebuah proposal penelitian yang saya sodorkan di akhir semester kemarin, yang dalam beberapa waktu lalu baru diizinkan untuk diseminarkan. Saya ingin menyebut proposal ini sebagai hal ‘ternekat’ yang pernah saya lakukan. Karena apa? I have nothing to do that!!! Saya hanya berusaha memperjuangkan apa yang saya sukai dan tidak mau pindah ke lain hati. Eh, ke lain tema maksudnya. Agaknya saya termasuk tipe orang yang susah move-on sehingga tidak ada tema apapun – selain tema yang saya geluti saat ini – yang mampu menaklukkan hati dan pikiran saya. Tapi, saya punya satu modal yang terus saya pertahankan bersamaan dengan kenekatan itu. Ia adalah ‘pasrah’.

Pasrah bukan berarti menyerah. Bukan berarti tanpa usaha. Bukan berarti duduk termangu dan semata-mata mengharapkan keajaiban datang begitu saja dari langit. Pasrah adalah soal ‘hati’, ketika kita melakukan segala-galanya demi mengharapkan ridho Allah SWT agar ilmu yang diusahakan mati-matian itu menjadi berkah, menjadi sedekah jariyah. Pasrah adalah soal ‘berserah diri’, ketika lahir dan batin kita terkuras sementara kita tetap ikhlas dan juga yakin bahwa masa depan – pun hidup kita – ada dalam genggaman-Nya, dan yang terpenting pasrah adalah soal ‘meminta’ dan ‘memohon’ tanpa takut ditolak, tanpa perlu memutar balikkan otak tentang bagaimana Allah akan mengabulkannya karena Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Kepasrahan pastilah tetap dihantui oleh segala keraguan. Pernah terpikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, kan?

Ya Allah... Kenapa hamba mengalami begitu banyak kesulitan?
Allah menjawab: Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al-Insyirah: 6)

Ya Allah... Kenapa Engkau berikan hamba sesuatu yang hamba tidak sukai, Sementara Engkau berikan pada teman hamba apa yang ia pinta?
Allah menjawab: Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah: 216)

Ya Allah... Hamba tidak tau lagi harus berbuat apa. Hamba merasa kacau balau, panik, tak tentu arah...
Lalu Allah menjawab: Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (Ar-Ra’du: 28)

See? Itu hanya secuil pertanyaan dari ratusan pertanyaan lain dalam benak kita, yang setiap jawabannya pasti ada dalam surat cinta dari-Nya. Hayooo... Siapa yang kerjaannya cuma nangisin surat cinta dari mantan? Surat cinta dari Allah dibaca nggak? Udah dipahami? Kalau belum, baca sekarang deh ^_^  

So, jangan pernah takut do’anya ditolak. Tentukan dulu impianmu, setelah itu berusaha keras dan berdo’a. Mendekatlah kepada-Nya, Sang Maha pengasih lagi Maha Pemurah dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Memang segala kesulitan itu tak serta-merta hilang, tapi setidaknya ada kedamaian di dalam hati sampai kita menemukan kemudahan dibalik kesulitan itu. Ingat juga, Allah punya cara-Nya sendiri untuk mengabulkan do’a hamba-hamba-Nya.

Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani),yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit
-Ali bin Abi Thalib-


Syukron jazakillah buat kamu yang udah baca. Semoga bermanfa’at ya...  ^_^

Sabtu, 14 Mei 2016

Tips dan Trik Betah Nge-Jomblo



Assalamu’alaikum wr.wb

Hai sahabat seiman... ^_^

Udah lama gak nulis nih, jadi banyak banget dah yang mau diceritain. Tapi untuk sesi kali ini, saya mau cerita satu topik aja. Cerita-cerita lainnya bakal nyusul secepatnya, dan semoga kamu semua masih dengan senang hati mau baca tulisan yang sederhana ini J

O ya, sebelum saya cerita, saya mau kasih tau sedikit tentang diri saya. Ya... Sebenarnya gak penting juga sih, toh saya bukan tokoh inspiratif (Insya Allah di masa depan). Tapi, inilah yang menjadi latar belakang kuat bagi saya untuk berani menulis tentang topik ini.

Saya tipikal orang yang plegmatis, punya hobi menulis tapi tidak tergolong kreatif (kamu bisa lihat dari blog saya yang desainnya standar-standar aja), bermimpi punya banyak prestasi tapi belum terlalu terwujudkan kecuali satu prestasi yang paling berarti, yaitu berhasil menjadi ‘jomblo-ers’ hampir 22 tahun.

Pertanyaan yang paling sering dilontarkan kepada saya adalah tentang yang satu itu. Tentang ke-‘jomblo’-an saya seumur saya hidup. Kebanyakan dari mereka tidak percaya kalau saya memang tidak pernah pacaran. Mungkin begitu juga kamu. Tapi setelah menyimak beberapa hal berikut, bisa jadi kamu akan berpikir bahwa itu semua adalah hal yang masuk akal.

FAKTA SEPUTAR PACARAN
Berikut beberapa fakta tentang pacaran yang saya rangkum berdasarkan analisa pribadi dan survey yang saya lakukan selama ini. Mungkin kamu tidak akan menyetujuinya secara keseluruhan, tapi beberapa diantaranya saya pikir adalah fakta yang tak terbantahkan.

1.       Pacaran ngabisin waktu
Pacar ‘identik’ sebagai seseorang yang selalu kasih perhatian sama pasangannya. Kalau kamu punya pacar, otomatis kamu harus lebih perhatian ke dia daripada ke yang lain. Karena penyebab ter-umum dari retaknya hubungan mereka yang pacaran adalah kurangnya perhatian. Jadi, ya kamu harus ngabisin waktu ekstra untuk merhatiin dia (setidaknya mikirin), apa dia udah makan, udah tidur, atau udah bangun. Nah, ibu kamu yang udah ngandung 9 bulan, bergelimang dalam kesakitan dan penderitaan, ditanyain gituan kagak?? -_-

2.        Pacaran ngabisin duit
Berdasarkan pengamatan saya, mereka yang pacaran butuh pulsa lebih banyak, butuh duit buat traktir pasangan, minimal buat beli coklat yang pastinya harus mahalan dikit (kan buat orang tersayang). Mmm... Kira-kira itu duit jajan dari orangtua nggak ya?? Tau nggak kalau di rumah ibu sama bapaknya kerja keras banting tulang?

3.       Pacaran menguras emosi
Kenapa nggak coba?? Pacarnya akrab sama orang lain, dia cemburu. Dia akrab sama orang lain, pacarnya yang cemburu. Dekat sama ini salah, sama itu salah. Dikit-dikit berantem, gara-gara sibuk lah, kurang perhatian lah, pergi nggak bilang-bilang lah. Kan capek... L

4.       Pacaran termasuk dalam kategori ‘Mendekati Zina’
Sebagian orang berdalih bahwa pacaran yang tanpa ‘pegang-pegangan’ adalah pacaran yang aman. Apalagi yang katanya pacaran shalih, saling mengingatkan untuk shalat malam, puasa sunnah, dll yang katanya adalah untuk penyemangat dalam berbuat kebaikan. Kagak ada tuh yang begituan...!
Ingat surah Al A’raaf: 16-17
Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

Nah, zaman sekarang kan berdua-duaan nggak harus di dunia nyata, di dunia maya peluang berdua-duaan malah lebih besar. Kalau berdua-duaan, yang ketiganya siapa coba?? Oke sekarang manggil sayang-sayangan doang, komunikasi cuma buat ngingatin ibadah, habis itu bisa jadi saling membayangkan, habis itu??? Iblis udah siap-siap tuh!!!

Ingat juga surah ini:
“Dan janganlah kalian MENDEKATI zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)

Jadi paham ya.. JANGAN MENDEKAT!! TEGANGAN TINGGI!!

5.       Pacaran menjauhkan kita dari Ilmu
Orang bijak bilang, Ilmu adalah cahaya. Cahaya tidak diturunkan kepada mereka yang bermaksiat karena maksiat memadamkan cahaya. Ilmu juga diturunkan dari Allah, sementara maksiat menghalangi kita dari Allah. SO, ilmu tidak akan turun pada mereka yang bermaksiat dan pacaran adalah SALAH SATU bentuk maksiat.
Terus kenapa ada juga orang yang prestasinya meningkat sejak punya pacar ?
Nah, itulah cobaan untuk kita dalam berusaha membedakan mana yang haq, mana yang batil. Nggak mungkin kan, Allah ngasih reward ke kamu karena berbuat maksiat? -_-


Setelah ngomong panjang lebar soal Fakta Seputar Pacaran, tibalah saatnya saya mau kasih tau kamu soal Tips dan Trik biar betah buat nggak pacaran alias ‘Nge-Jomblo’. Berikut ini adalah hal-hal yang saya lakukan secara pribadi, terserah kamu mau setuju atau nggak J

1.       Jangan terlalu gampang suka/kagum sama orang lain
Dia yang menurut kamu luar biasa itu bukanlah orang yang sempurna, melainkan orang yang ditutupi aibnya oleh Allah SWT. Jadi, jangan terlalu cepat tergila-gila ya! Biasa aja.
2.       Jangan gampang bilang ‘IYA’
Nah, ini terkhusus buat kaum hawa ya. Jangan gampang bilang ‘IYA’ karena kasihan sama si dia, malah lebih kasihan dianya kalau kamu terima. Dia jadi terjerumus ke lembah maksiat. Jangan gampang bilang ‘IYA’ hanya karena kamu percaya cinta pertama si dia adalah kamu. Boleh jadi itu benar, tapi hey... Kamu belum tentu yang terakhir. Bisa jadi dia bilang hal yang sama ke cewek lain setelah bosan sama kamu -_-
3.       Jangan merasa paling ‘ngenes’
Nggak punya pasangan bukan berarti kamu menjadi orang yang tak berdaya!! Kamu bisa jadikan Allah dan orangtua sebagai motivasi terbesar dalam hidup kamu (emang seharusnya begitu). Kamu juga bisa membagi suka dan duka ke sahabat-sahabat kamu, sampai kapanpun, karena persahabatan karena Allah akan langgeng bahkan hingga ke surga.
4.       Sibukkan diri dengan hal-hal positif
Insya Allah dah, kalau kamu sibuk nggak bakalan kepikiran lagi soal cinta-cintaan. Pikiran kamu akan dipenuhi oleh visi dan misi hidup yang harus dijalankan, ratusan impian yang harus diwujudkan, juga ribuan langkah yang harus kamu tempuh untuk menjadi pribadi bermartabat baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah. Mantap nian...!!
5.       Penuhi hati dengan cinta yang suci
Kalau hati kamu udah penuh, maka tidak akan ada lagi ruang-ruang kosong yang akan disusupi setan. Yang ada di sana hanya cinta kepada Allah, cinta kepada orangtua karena Allah, cinta kepada sahabat karena Allah, cinta kepada ilmu karena Allah, dan cinta-cinta lain yang semuanya karena Allah J

Wuuuiiihh.... Kepanjangan ya?? Maaf deh...

Ada sedikit catatan penting nih, terkhusus buat sahabat sekalian yang udah paham soal haramnya pacaran dan lagi berjuang dalam kesendirian. Pastilah ada keinginan untuk secepatnya ‘membersamai’ seseorang. Tapi kamu harus ingat, banyak yang harus dipersiapkan. Kesiapan mental, pemahaman, bahkan kemapanan (terkhusus cowok) harus dipersiapkan sebaik-baiknya, karena generasi Rabbani tidak akan terbentuk dari Ibu dan Ayah yang ‘ecek-ecek’

Sing sabar ya nduk... Jodoh mah nggak kemana. Kalau nggak kamu yang nemuin dia, dia yang akan nemuin kamu

Sekian dan Terimakasih ^_^

(Bagi kamu yang udah baca tulisan ini, mohon ditinggalkan jejaknya ya... Karena like ataupun comment dari kamu adalah penyemangat bagi saya untuk dapat menulis dengan lebih baik. Semangat menebar kebaikan J)