Namaku
Sinta, mahasiswi semester IV di salah satu Fakultas Kedokteran ternama di
Indonesia. Aku bukanlah gadis manja yang dengan lapang dada berkutat di
sekeliling rumah atau sekedar berkarir di kota kelahiran, tapi aku adalah gadis
dengan jiwa petualang.
Kala itu bulan September. Aku baru saja memenangkan sebuah
perlombaan karya ilmiah tingkat nasional. Aku mempercepat langkahku menuju
rumah demi memberitahukan kabar gembira ini kepada keluargaku.
“Ayah...! Ibu...! Aku menang lagi.” Aku bersorak riang dan
memeluk pundak kedua orangtuaku dari arah belakang.
“Coba ayah lihat.” Ayah mengambil sertifikat dari tanganku
lalu mangguk-mangguk takjub bersama ibu. “Alhamdulillah. Kami sangat bangga
padamu, nak.” Mereka mengusap-ngusap kepalaku.
Seribu kali sayang, kebahagiaan ini tidak berlangsung lama. Aku
mendengar gemerincing lampu kristal. Aku juga merasakan tanah di bawah kakiku
bergerak, semakin lama semakin cepat hingga aku kesulitan untuk berdiri.
Kalimat takbir tak hentinya keluar dari mulut ayah dan ibu saat menarik
lenganku dan mengajakku untuk segera keluar dari ruangan. Aku pun berlari
mengikuti mereka namun Allah berkehendak lain.
Kakiku terkilir. Segelas air yang tumpah di atas lantai membuatku
terjerembab. Aku tidak bisa bergerak sedikitpun. Berkali-kali aku mencoba
memanggil kedua orangtuaku yang sekarang sudah berada di tempat yang aman, tapi
nihil. Mereka tidak mendengar bahkan tidak menyadari bahwa aku tidak bersama
mereka.
Aku melihat atap rumah rubuh menimpaku, kemudian semuanya
menjadi gelap.
“Ibu... Aku dimana?” tanyaku saat baru saja membuka mata.
Ruangan luas ini amat asing bagiku dan tak ada yang kukenali di ruangan ini
selain ibu.
“Kau di rumah sakit, nak.”
Aku terdiam untuk beberapa saat. Aku tidak ingat apa yang
terjadi padaku hingga aku harus tergeletak di sini. Aku juga menyadari bahwa
mata ibu sembab dan suaranya tertahan meskipun ia tampak berusaha keras untuk
tersenyum.
Rasa penat tiba-tiba menjalar di punggungku dan memaksaku
untuk berdiri. Aku menyibakkan selimut dari tubuhku dan mencoba menurunkan
kedua kakiku. Tapi tidak, yang kudapati adalah mimpi buruk.
“Ibu!!! Ada apa dengan kakiku?” Aku meraung, tidak percaya
dengan penglihatanku sendiri.
“Tidak apa-apa, nak. Semuanya akan baik-baik saja.” Ibuku
segera merangkul pundakku dan berusaha menyemangatiku.
“Apanya yang baik, bu?? Lihat ini!!” Aku memukul-mukul pahaku.
“Aku kehilangan kedua kakiku!”
Ibuku terdiam. Ia hanya bisa menangis bersamaku. Ia terus
mengelus-elus rambutku sampai aku tak berdaya lagi mengeluarkan air mata. Aku
tau bahwa sepahit apapun aku harus menerima kenyataan ini, tapi otakku menolak.
Aku terpuruk. Tidak ada lagi yang lebih kubenci selain diriku
sendiri dan kursi roda ini.
Hari-hari terus berlalu tanpa mempedulikan perasaanku.
Keputusasaan akhirnya menenggelamkanku dalam kesedihan dan berhasil membawaku
ke dalam jurang yang lebih dalam. Aku berpikir bahwa keberadaanku di dunia ini
hanya dalam kesia-siaan, karena bagiku hidup tak berguna jika tanpa impian yang
bisa diwujudkan. Diam-diam aku mendorong kursi rodaku ke tepi jurang di
belakang rumah dan berharap tidak dapat merasakan apa-apa lagi.
“Berhenti!!” perintahku pada seorang gadis yang tiba-tiba kulihat
berjalan lurus ke tepi jurang. Aku segera membelokkan kursi rodaku ke arahnya
lalu menarik tangannya tanpa peduli lagi dengan niatku sebelumnya.
“Ada apa?” Ia malah bertanya seperti tidak tau apa-apa.
“Di depan sana ada jurang. Jika kau jalan terus kau bisa
mati.” Aku lalu memperhatikannya dengan seksama. “Kau buta?”
“Iya.” Gadis itu mengangguk dan tersipu malu. “Maaf telah
merepotkan.”
Kami berdua berjalan menjauhi tepi jurang menuju sebuah pondok
kecil yang agak jauh dari sini. Aku sampai terlebih dulu di pondok saat rintik
hujan mulai turun.
“Hey! Apa yang kau lakukan di sana? Ayo masuk!” Aku berusaha
mengajaknya yang tidak ikut bersamaku.
“Tunggu sebentar.” Ia malah menengadahkan wajahnya ke langit
dan membiarkannya basah. Aku semakin heran melihat tingkahnya. Ia baru berteduh
bersamaku saat hujan semakin deras.
“Suka hujan?” Aku mencoba bertanya dengan seramah mungkin.
“Sangat suka. Hujan membuat wajahku terasa dingin.” Ia
memegangi kedua pipinya.“Kau bisa ceritakan padaku bagaimana rupanya?” Ia
bertanya penuh semangat.
“Kau... Tidak pernah melihat hujan?” Aku gugup sekaligus
keheranan.
“Tidak. Aku buta sejak lahir.”
Aku tersentak, tidak tau harus berkata apa. Bagiku hujan tidak
seberarti ini.
“Sebelum hujan turun
kau akan melihat awan mendung menggelantung di langit, menutupi matahari hingga
membuat semuanya tampak lebih gelap. Ia akan turun perlahan-lahan, sedikit demi
sedikit lalu semakin banyak,” jelasku terbata-bata.
“Benarkah? Lalu pelangi itu seperti apa?” Ia semakin
bersemangat.
Aku berpikir sesaat untuk mencari kata-kata yang tepat. “Ia
punya tujuh warna yang tersusun dalam setengah lingkaran dan muncul setelah
hujan. Kau tidak pernah bisa melihat kedua ujungnya.”
“Wahh... Aku tidak sabar melihatnya.” Ia bertepuk-tepuk girang
dengan wajah berseri-seri.
“Kau yakin bisa melihatnya?” Aku bertanya tanpa sedikitpun
berniat menghancurkan harapannya.
“Pasti. Suatu saat. Walaupun sesaat.” Ia tersenyum tanpa menoleh
padaku. “Kau punya impian apa?”
“Aku... Ingin menjadi seorang dokter,” jawabku malu-malu.
“Wah! Luar biasa. Kau harus semangat, ya! Aku yakin kau tidak
akan menyerah dalam kondisi apapun. Lewat tanganmulah Allah akan menyelematkan
hamba-Nya.” Ia menepuk pundak kananku.
Aku tertunduk. Hampir saja aku kalah dari gadis ini. Gadis
buta yang hanya bermimpi melihat pelangi. Lihatlah wahai gadis tanpa nama,
akulah yang akan mengobatimu kelak.
-THE END-

Keren ka, inspiratif sekali 👍
BalasHapusWahh.. biasa aja mbang. Makasih udh mau baca :)
Hapusbagus kak wika
BalasHapusCerpen avi lagi bagus :)
HapusYa sama2 ka..
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus