Kamis, 26 Mei 2016

Jangan Takut Ditolak (Dekati Dia!)



Assalamu’alaikum wr.wb...

Kayfa haalukum? Semoga kalian semua selalu dalam keadaan sehat
Kira-kira, ada yang merasa tertipu dengan judul di atas? Kalau iya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini bukan soal ‘dia’ yang sering kamu kode di media sosial, bukan soal ‘dia’ yang sedang kamu tunggu, bukan juga soal ‘dia’ yang selalu kamu sebut dalam do’a-do’amu. Ini lebih dari itu. Ini soal ‘Dia’ Sang Maha Segalanya. Kalau kamu nyesel udah buka blog ini (karena ternyata tulisan ini tidak akan membahas soal cinta-cintaan), ya legowo aja. Insya Allah bermanfa’at. ^_^

Saya tergerak untuk menulis tentang ini karena saya rasa beberapa hari ini saya sering mendapatkan ‘keajaiban’. ‘Keajaiban’ yang membuat saya lupa bahwa sebelumnya saya pernah merasa panik, tidak tau jalan keluar, bahkan hampir ingin menyerah. Ia dititipkan Allah pada orang-orang baik di sekitar saya, pada teman-teman dekat maupun pada orang yang baru saya kenal. Masya Allah...

Semuanya berawal dari sebuah proposal penelitian yang saya sodorkan di akhir semester kemarin, yang dalam beberapa waktu lalu baru diizinkan untuk diseminarkan. Saya ingin menyebut proposal ini sebagai hal ‘ternekat’ yang pernah saya lakukan. Karena apa? I have nothing to do that!!! Saya hanya berusaha memperjuangkan apa yang saya sukai dan tidak mau pindah ke lain hati. Eh, ke lain tema maksudnya. Agaknya saya termasuk tipe orang yang susah move-on sehingga tidak ada tema apapun – selain tema yang saya geluti saat ini – yang mampu menaklukkan hati dan pikiran saya. Tapi, saya punya satu modal yang terus saya pertahankan bersamaan dengan kenekatan itu. Ia adalah ‘pasrah’.

Pasrah bukan berarti menyerah. Bukan berarti tanpa usaha. Bukan berarti duduk termangu dan semata-mata mengharapkan keajaiban datang begitu saja dari langit. Pasrah adalah soal ‘hati’, ketika kita melakukan segala-galanya demi mengharapkan ridho Allah SWT agar ilmu yang diusahakan mati-matian itu menjadi berkah, menjadi sedekah jariyah. Pasrah adalah soal ‘berserah diri’, ketika lahir dan batin kita terkuras sementara kita tetap ikhlas dan juga yakin bahwa masa depan – pun hidup kita – ada dalam genggaman-Nya, dan yang terpenting pasrah adalah soal ‘meminta’ dan ‘memohon’ tanpa takut ditolak, tanpa perlu memutar balikkan otak tentang bagaimana Allah akan mengabulkannya karena Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Kepasrahan pastilah tetap dihantui oleh segala keraguan. Pernah terpikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, kan?

Ya Allah... Kenapa hamba mengalami begitu banyak kesulitan?
Allah menjawab: Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al-Insyirah: 6)

Ya Allah... Kenapa Engkau berikan hamba sesuatu yang hamba tidak sukai, Sementara Engkau berikan pada teman hamba apa yang ia pinta?
Allah menjawab: Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah: 216)

Ya Allah... Hamba tidak tau lagi harus berbuat apa. Hamba merasa kacau balau, panik, tak tentu arah...
Lalu Allah menjawab: Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (Ar-Ra’du: 28)

See? Itu hanya secuil pertanyaan dari ratusan pertanyaan lain dalam benak kita, yang setiap jawabannya pasti ada dalam surat cinta dari-Nya. Hayooo... Siapa yang kerjaannya cuma nangisin surat cinta dari mantan? Surat cinta dari Allah dibaca nggak? Udah dipahami? Kalau belum, baca sekarang deh ^_^  

So, jangan pernah takut do’anya ditolak. Tentukan dulu impianmu, setelah itu berusaha keras dan berdo’a. Mendekatlah kepada-Nya, Sang Maha pengasih lagi Maha Pemurah dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Memang segala kesulitan itu tak serta-merta hilang, tapi setidaknya ada kedamaian di dalam hati sampai kita menemukan kemudahan dibalik kesulitan itu. Ingat juga, Allah punya cara-Nya sendiri untuk mengabulkan do’a hamba-hamba-Nya.

Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani),yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit
-Ali bin Abi Thalib-


Syukron jazakillah buat kamu yang udah baca. Semoga bermanfa’at ya...  ^_^

3 komentar:

  1. Wik, Ca setuju sama makna pasrahnya...
    :-D

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah kalau gitu ca,, besok2 kalau ada tulisan ka yg salah kasih kritik aja lngsung ya :)

    BalasHapus
  3. Haduh, Wik... Ica mah lebih banyak lagi salah dalam nulisnya kayaknya... :D

    hiuwiuw...

    Sama-sama lah yaaa... ;)

    BalasHapus