Ialah yang pertama kali
datang. Ia menyusup ke dalam relung hatiku yang terdalam dengan perlahan serta
membawa kedamaian. Aku bisa saja bertingkah bodoh di depannya tanpa sedikitpun
rasa malu. Aku bisa saja berpura-pura menjadi wanita lemah yang selalu butuh
pertolongan. Aku juga bisa berpura-pura membutuhkan izin darinya untuk
melakukan sesuatu, lalu malah bersemu merah saat ia melarangku melakukannya
hanya demi keselamatan atau kebahagiaan diriku. Dan ternyata ia hanya ‘angin
musim gugur’-ku. Berhembus pelan, memberikan kesejukan, tapi lama kelamaan
membuatku menggigil dan sulit bertahan. Aku baru tersadar saat pada akhirnya ia
memilih orang lain dan meninggalkan aku sebagai orang yang selama ini
‘dikasihani’. Ia memang tidak memilihku. Tidak pernah.
Lalu datang lagi
seseorang dengan berjuta impian. Ia yang selalu menguatkanku dan mengangkatku
sebagai wanita yang kuat, wanita yang harus selalu menatap ke depan. Ia yang
selalu menyemangatiku untuk mengejar impian tanpa peduli dengan rintangan yang
menghadang. Ia yang mengubah setiap sendi-sendi tubuhku menjadi kerangka yang
kokoh dan mengaliri setiap nadiku dengan pengharapan. Lalu apa? Ternyata ia
hanya ‘pelangi sore hari’-ku, menghilang begitu saja setelah milyaran
bintang-gemintang nan cantik memenuhi langit. Ia juga tidak memilihku.
Dan yang terparah
adalah kamu, ‘hujan bulan Juni’-ku. Tak peduli aku dengan seberapa puitisnya
para pujangga memujamu atas rintikmu yang katanya penuh rindu. Yang ku lihat
saat ini hanyalah hujan badai yang menakutkan seakan-akan mampu
memporak-porandakan segalanya. Aku tidak akan membiarkanmu membasahi
celah-celah hatiku. Tidak untuknya yang telah lama hancur, remuk-redam. Tidak
pernah berani aku memintamu dalam do’a, menyebut-nyebut namamu di hadapan-Nya,
ataupun sekedar berkhayal bahwa kita akan bersama. Aku tidak akan membiarkan
benih-benih itu tumbuh. Aku tidak siap jika ternyata kamu ditakdirkan menjadi ‘hujan
bulan Juni’-ku yang turun bersama badai, lagi-lagi membuatku luluh lantak.
Benarlah kata orang
bijak bahwa harapan beriringan dengan kekecawaan. Sebanyak apa kamu berani
berharap, sebanyak itu pula kamu bersiap untuk kecewa. Lalu jangan sangka bahwa
memendam rasa adalah perkara yang mudah, akan tetapi perkara yang senantiasa
dibayang-bayangi rasa sakit atas kekecewaan yang menghujam. Maka cukuplah jika
benih yang tumbuh hanya akan menjadi pohon keimanan yang kokoh kepada Allah,
Sang Maha Pengasih. Cukuplah jika benih yang tumbuh hanya akan menghasilkan
buah-buah manis kecintaan kepada Allah, Sang Maha Penyayang. Cukuplah jika air
mata yang jatuh hanya karena memohon ampunan kepada Allah, Sang Maha Pengampun.
Cukuplah jika aku hanya meminta seseorang yang mencintai Allah selayaknya aku
mencintai-Nya, tidak harus kamu, tidak pula dia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar