Jumat, 19 Agustus 2016

Dini Hari dalam Kelam



Pada awalnya aku tidak berniat sama sekali menulis tentang ini. Aku tersentak pukul 2 pagi, menyelesaikan semua kegiatan peribadatan, lalu bertekad melanjutkan tulisan-tulisan yang sudah kugeluti selama berminggu-minggu. Tulisan yang membuat kemampuan bersastraku yang minim ini menjadi semakin berkurang. Ya, itulah skripsi. Hanya penuh dengan analisa dan landasan teori. Tapi, sebelum melanjutkan tekad tersebut iseng-iseng ku aktifkan wifi lalu ku buka akun facebook-ku, siapa tau ada kabar yang cukup penting.

Tak lama men-scroll  beranda fb, aku menemukan tulisan salah seorang seniorku di kampus. Beliau tidak satu jurusan denganku, tapi sedikit banyaknya aku tau tentang beliau. Pemuda yang sering wara-wiri di hampir setiap kegiatan kampus, terkenal menginspirasi dan sangat bersemangat. Beliau juga punya banyak prestasi yang mungkin tidak lagi terhitung dengan jari. Dan hei, siapa yang tidak akan kenal dengannya? (paling-paling ia yang tidak kenal denganku). Tapi sungguh, ini bukan soal pribadi beliau. Ini soal kehidupan masa lalunya yang ternyata begitu luar biasa. Aku tidak pernah menyangka akan mendengar (red: membaca) kisah se-menyedihkan itu dari orang yang berada di sekitarku. Kisah yang sering kutemui di novel-novelnya Andrea Hirata yang selama ini ku anggap hanya fiksi belaka. Fix, seniorku dan tulisannya itu berhasil membuat mataku berkaca-kaca.

Beberapa menit kemudian aku telah menyelesaikan membaca tiga atau empat tulisan beliau di blognya. Aku kembali ke beranda fb, men-scroll lagi ke bawah. Aku menemukan sebuah video yang dibagikan oleh temanku. Ia memberi sedikit komentar pada video itu hanya dengan satu kata, ‘heartbreaking’. Video itu tentang serangan di Syria dan seorang bocah kecil bernama Omran yang selamat dari kematian. Ia hanya terduduk di kursi setelah diselamatkan oleh para relawan dan terdiam tanpa air mata, sedikitpun. Sesekali ia menyeka darah yang mengalir di dahinya lalu kebingungan harus membersihkan tangannya dimana, hingga akhirnya tangan yang berlumuran darah itu digosokkannya ke kursi tempat ia duduk. Oh Omran, kau berhasil membuat air mataku tumpah-ruah dini hari ini.

Seketika aku tersadar, bahwa sejatinya aku tidak lebih dari siapapun. Aku hanya seorang gadis beruntung yang diberi kesempatan untuk belajar dari pengalaman hidup orang-orang luar biasa. Aku bisa merasakan kesedihan, kesempitan, kesakitan dan luka yang sangat mendalam tanpa harus ditimpakan. Hanya ada 2 kisah yang cukup menyakitkan bagiku selama aku hidup. Pertama, dilupakan oleh seseorang yang ku anggap cinta pertama (padahal mungkin itu hanya cinta monyet yang dibumbui penghayatan seperti cerita cinta dalam sinetron). Kedua, merasa tidak dianggap selama tiga tahun di SMA. Hanya itu, dan aku merasa seolah-olah hidup tidaklah adil. Padahal sebenarnya, ujian ku belum sepersekian dari ujian mereka, dan sebenarnya di luar sana banyak orang-orang hebat yang menjadi hebat karena kesabarannya dalam menghadapi ujian yang luar biasa berat.

Maka tidak ada lagi alasan bagiku untuk berkeluh kesah. Alasan yang ada hanyalah tentang bagaimana rasa simpati ini terus-menerus tumbuh, dan bagaimana caranya agar kebahagiaan dan keberuntungan yang ku miliki sekarang dirasakan oleh banyak orang, sebagaimana kesedihan dan kesakitan mereka memberiku banyak pelajaran. Jika tetap saja sibuk berkeluh kesah, mungkin aku – atau juga kita – akan gagal mejadi manusia.

Terimakasih untuk semua tulisan-tulisan kalian. Terimakasih sudah bersedia berbagi pengalaman.



Padang, dini hari dalam kelam 
Ditemani alarm teman-teman kos yang silih berganti berbunyi tanpa mampu membangunkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar