Pada awalnya aku tidak berniat
sama sekali menulis tentang ini. Aku tersentak pukul 2 pagi, menyelesaikan
semua kegiatan peribadatan, lalu bertekad melanjutkan tulisan-tulisan yang
sudah kugeluti selama berminggu-minggu. Tulisan yang membuat kemampuan
bersastraku yang minim ini menjadi semakin berkurang. Ya, itulah skripsi. Hanya
penuh dengan analisa dan landasan teori. Tapi, sebelum melanjutkan tekad
tersebut iseng-iseng ku aktifkan wifi lalu ku buka akun facebook-ku, siapa tau
ada kabar yang cukup penting.
Tak lama men-scroll beranda fb, aku
menemukan tulisan salah seorang seniorku di kampus. Beliau tidak satu jurusan
denganku, tapi sedikit banyaknya aku tau tentang beliau. Pemuda yang sering
wara-wiri di hampir setiap kegiatan kampus, terkenal menginspirasi dan sangat
bersemangat. Beliau juga punya banyak prestasi yang mungkin tidak lagi
terhitung dengan jari. Dan hei, siapa yang tidak akan kenal dengannya?
(paling-paling ia yang tidak kenal denganku). Tapi sungguh, ini bukan soal
pribadi beliau. Ini soal kehidupan masa lalunya yang ternyata begitu luar
biasa. Aku tidak pernah menyangka akan mendengar (red: membaca) kisah
se-menyedihkan itu dari orang yang berada di sekitarku. Kisah yang sering
kutemui di novel-novelnya Andrea Hirata yang selama ini ku anggap hanya fiksi
belaka. Fix, seniorku dan tulisannya itu berhasil membuat mataku berkaca-kaca.
Beberapa menit kemudian aku telah
menyelesaikan membaca tiga atau empat tulisan beliau di blognya. Aku kembali ke
beranda fb, men-scroll lagi ke bawah.
Aku menemukan sebuah video yang dibagikan oleh temanku. Ia memberi sedikit
komentar pada video itu hanya dengan satu kata, ‘heartbreaking’. Video itu tentang serangan di Syria dan seorang
bocah kecil bernama Omran yang selamat dari kematian. Ia hanya terduduk di
kursi setelah diselamatkan oleh para relawan dan terdiam tanpa air mata,
sedikitpun. Sesekali ia menyeka darah yang mengalir di dahinya lalu kebingungan
harus membersihkan tangannya dimana, hingga akhirnya tangan yang berlumuran
darah itu digosokkannya ke kursi tempat ia duduk. Oh Omran, kau berhasil
membuat air mataku tumpah-ruah dini hari ini.
Seketika aku tersadar, bahwa
sejatinya aku tidak lebih dari siapapun. Aku hanya seorang gadis beruntung yang
diberi kesempatan untuk belajar dari pengalaman hidup orang-orang luar biasa.
Aku bisa merasakan kesedihan, kesempitan, kesakitan dan luka yang sangat
mendalam tanpa harus ditimpakan. Hanya ada 2 kisah yang cukup menyakitkan bagiku selama aku hidup. Pertama, dilupakan oleh
seseorang yang ku anggap cinta pertama (padahal mungkin itu hanya cinta monyet
yang dibumbui penghayatan seperti cerita cinta dalam sinetron). Kedua, merasa
tidak dianggap selama tiga tahun di SMA. Hanya itu, dan aku merasa seolah-olah
hidup tidaklah adil. Padahal sebenarnya, ujian ku belum sepersekian dari ujian
mereka, dan sebenarnya di luar sana banyak orang-orang hebat yang menjadi hebat
karena kesabarannya dalam menghadapi ujian yang luar biasa berat.
Maka tidak ada lagi alasan bagiku
untuk berkeluh kesah. Alasan yang ada hanyalah tentang bagaimana rasa simpati
ini terus-menerus tumbuh, dan bagaimana caranya agar kebahagiaan dan
keberuntungan yang ku miliki sekarang dirasakan oleh banyak orang, sebagaimana
kesedihan dan kesakitan mereka memberiku banyak pelajaran. Jika tetap saja
sibuk berkeluh kesah, mungkin aku – atau juga kita – akan gagal mejadi manusia.
Terimakasih untuk semua
tulisan-tulisan kalian. Terimakasih sudah bersedia berbagi pengalaman.
Padang, dini hari dalam kelam
Ditemani alarm teman-teman kos yang silih berganti berbunyi tanpa mampu
membangunkan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar