Yah... Akhirnya ia menuliskan ini
juga. Sebut saja namanya Sahara. Berkali-kali ia menahan diri untuk tidak
bercerita tentang masa lalu-nya,karena anggapan bahwa menjadi ‘buku yang
terbuka’ itu tidak baik. Buku yang halaman demi halamannya bisa dibaca oleh
siapa saja dengan mudah, tanpa butuh perjuangan atau pengorbanan, sehingga buku
itu menjadi sesuatu yang tidak lagi istimewa. Lalu ketika bertemu dengan
orang-orang yang telah membaca halaman hidupnya, mereka akan memandangnya
sebagai seorang yang lain. Bagi mereka, sosoknya akan menjadi sekumpulan kisah
masa lalu. Begitulah pendapat Sahara. Tapi setelah ia pikirkan lagi, tidak ada
salahnya berbagi cerita. Selagi tidak membuka aib diri sendiri ataupun orang
lain.
Sahara adalah anak perempuan yang
lahir setahun setelah kematian kakak laki-lakinya. Seingatnya, saat kecil dulu,
ia pernah bertanya tentang hal itu kepada sang ibu. Kakak laki-laki itu berkulit
putih kemerahan dengan postur badan yang cukup tegap. Dia lah anak laki-laki
yang lahir ke dunia tanpa sempat menangis. Dia juga yang sampai saat ini masih
tetap diharapkan Sahara untuk hidup.
Iri rasanya melihat
teman-teman dengan kakak laki-laki mereka. Sahara berpikir bahwa seorang kakak
laki-laki adalah teman bermain paling baik bagi adik perempuannya. Ia bisa
melindungi saat takut, menemani saat sendiri, menghibur saat murung, juga
menasihati saat salah. Sahara ingin tau bagaimana rasanya duduk di boncengan
sepedanya, bahkan Sahara ingin tau bagaimana rasanya saat rambutnya diacak-acak
dengan usil. Tapi sudahlah. Sahara hanya bisa berharap bertemu dengannya di
syurga kelak.
Masa kecilnya kemudian dihabiskan
bersama kakak laki-laki yang lain. Mereka adalah teman kanak-kanak yang riang. Sahara
tidak tau apa yang membuat mereka rajin mengunjunginya ke rumah, mengajaknya bermain
meski ujung-ujungnya hanya menjadi ‘anak bawang’. Saat pergi ke rumah nenek
pun, Sahara menjadi gadis kecil yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh kakak
laki-laki dari keluarga ayahnya. Meskipun begitu, ia tidak sedikitpun lupa
bahwa mereka semua tetaplah bukan kakak laki-lakinya.
Mungkin itulah yang membuat
Sahara terbiasa dengan teman laki-laki. Ia tidak terlalu ambil pusing ketika
banyak teman laki-laki berkunjung ke rumah, atau ketika tanpa disengaja ia
berada dalam kondisi dimana ialah satu-satunya perempuan di antara beberapa
teman laki-laki. Orangtuanya juga tidak mempermasalahkan, selagi teman
laki-lakinya itu mengerti adab dan batasan dalam bergaul. Tidak boleh berkunjung
sendirian, tidak boleh juga ada sentuhan. Hingga pada puncaknya, Sahara lebih suka
bergaya seperti laki-laki daripada perempuan.
Saat di bangku SMP dulu, ia
adalah seorang gadis separo boyish (tomboy) penggemar nuansa serba hitam. Ya, hanya separo karena ia
masih tetap menggunakan jilbab. Jilbab ‘sekedarnya’ yang masih ia pakai hanya
karena ia sadar bahwa ia adalah cucu dari seorang guru mengaji dan keponakan
dari seorang ulama. Hanya itu. Selebihnya tidak ia pedulikan. Ia tidak memiliki
sehelai rok pun selain rok sekolah, dan ia adalah yang pertama kali tertawa
ketika teman perempuannya mencoba menjadi gadis yang anggun.
Tapi semuanya berubah setelah ia
duduk di bangku SMA. Memilih bersekolah di salah satu SMA yang cukup jauh dari
rumah memaksa ia harus hidup sebagai anak kos.Tinggal serumah dengan teman baru
yang belum pernah ia kenal. Beradaptasi dengan watak baru dan kebiasaan baru
menjadikannya pribadi yang sedikit berbeda. Dan disaat itulah, Sahara mulai menemukannya.
Sesuatu yang di kemudian hari menjadi yang ‘termanis’ bagi Sahara, meskipun
pada awalnya sesuatu itu memperkenalkan wujudnya sebagai serangkaian pesakitan
dan penderitaan.
BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:
Posting Komentar