Kamis, 01 September 2016

Sahara (Black-Rose)



Yah... Akhirnya ia menuliskan ini juga. Sebut saja namanya Sahara. Berkali-kali ia menahan diri untuk tidak bercerita tentang masa lalu-nya,karena anggapan bahwa menjadi ‘buku yang terbuka’ itu tidak baik. Buku yang halaman demi halamannya bisa dibaca oleh siapa saja dengan mudah, tanpa butuh perjuangan atau pengorbanan, sehingga buku itu menjadi sesuatu yang tidak lagi istimewa. Lalu ketika bertemu dengan orang-orang yang telah membaca halaman hidupnya, mereka akan memandangnya sebagai seorang yang lain. Bagi mereka, sosoknya akan menjadi sekumpulan kisah masa lalu. Begitulah pendapat Sahara. Tapi setelah ia pikirkan lagi, tidak ada salahnya berbagi cerita. Selagi tidak membuka aib diri sendiri ataupun orang lain.

Sahara adalah anak perempuan yang lahir setahun setelah kematian kakak laki-lakinya. Seingatnya, saat kecil dulu, ia pernah bertanya tentang hal itu kepada sang ibu. Kakak laki-laki itu berkulit putih kemerahan dengan postur badan yang cukup tegap. Dia lah anak laki-laki yang lahir ke dunia tanpa sempat menangis. Dia juga yang sampai saat ini masih tetap diharapkan Sahara untuk hidup.

Iri rasanya melihat teman-teman dengan kakak laki-laki mereka. Sahara berpikir bahwa seorang kakak laki-laki adalah teman bermain paling baik bagi adik perempuannya. Ia bisa melindungi saat takut, menemani saat sendiri, menghibur saat murung, juga menasihati saat salah. Sahara ingin tau bagaimana rasanya duduk di boncengan sepedanya, bahkan Sahara ingin tau bagaimana rasanya saat rambutnya diacak-acak dengan usil. Tapi sudahlah. Sahara hanya bisa berharap bertemu dengannya di syurga kelak.

Masa kecilnya kemudian dihabiskan bersama kakak laki-laki yang lain. Mereka adalah teman kanak-kanak yang riang. Sahara tidak tau apa yang membuat mereka rajin mengunjunginya ke rumah, mengajaknya bermain meski ujung-ujungnya hanya menjadi ‘anak bawang’. Saat pergi ke rumah nenek pun, Sahara menjadi gadis kecil yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh kakak laki-laki dari keluarga ayahnya. Meskipun begitu, ia tidak sedikitpun lupa bahwa mereka semua tetaplah bukan kakak laki-lakinya.

Mungkin itulah yang membuat Sahara terbiasa dengan teman laki-laki. Ia tidak terlalu ambil pusing ketika banyak teman laki-laki berkunjung ke rumah, atau ketika tanpa disengaja ia berada dalam kondisi dimana ialah satu-satunya perempuan di antara beberapa teman laki-laki. Orangtuanya juga tidak mempermasalahkan, selagi teman laki-lakinya itu mengerti adab dan batasan dalam bergaul. Tidak boleh berkunjung sendirian, tidak boleh juga ada sentuhan. Hingga pada puncaknya, Sahara lebih suka bergaya seperti laki-laki daripada perempuan.

Saat di bangku SMP dulu, ia adalah seorang gadis separo boyish (tomboy) penggemar nuansa serba hitam. Ya, hanya separo karena ia masih tetap menggunakan jilbab. Jilbab ‘sekedarnya’ yang masih ia pakai hanya karena ia sadar bahwa ia adalah cucu dari seorang guru mengaji dan keponakan dari seorang ulama. Hanya itu. Selebihnya tidak ia pedulikan. Ia tidak memiliki sehelai rok pun selain rok sekolah, dan ia adalah yang pertama kali tertawa ketika teman perempuannya mencoba menjadi gadis yang anggun. 

Tapi semuanya berubah setelah ia duduk di bangku SMA. Memilih bersekolah di salah satu SMA yang cukup jauh dari rumah memaksa ia harus hidup sebagai anak kos.Tinggal serumah dengan teman baru yang belum pernah ia kenal. Beradaptasi dengan watak baru dan kebiasaan baru menjadikannya pribadi yang sedikit berbeda. Dan disaat itulah, Sahara mulai menemukannya. Sesuatu yang di kemudian hari menjadi yang ‘termanis’ bagi Sahara, meskipun pada awalnya sesuatu itu memperkenalkan wujudnya sebagai serangkaian pesakitan dan penderitaan.


BERSAMBUNG


Tidak ada komentar:

Posting Komentar