Aku adalah manusia
penasaran yang bergentayangan dengan seribu pertanyaan, tentang sesuatu yang
tak jua ku paham. Cinta. Lagi-lagi cinta.
Jawaban pertama yang
telah ku dapatkan adalah tentang cinta yang tak terdefinisikan. Aku berusaha
menerimanya dengan lapang dada, bahwa memang tak ada seorangpun yang dapat
mengartikannya dengan pasti dan sempurna. Mengidentifikasikannya dengan ciri
khas tertentu seperti nama-nama ilmiah dalam biologi, atau menjabarkannya
seperti dalam rumus-rumus matematika nan panjang dan rumit. Tapi sungguh, aku
lebih memilih menghapalkan ratusan nama ilmiah itu, juga menguraikan
rumus-rumus rumit itu, dibanding harus memahami satu kata yang abstrak layaknya
cinta.
Aku tau para pujangga.
Aku juga cukup tau karya-karya mereka. Dan aku suka cara mereka menyebut-nyebut
cinta. Tapi dari sepenuh hati yang ku punya, hanya sekelumit darinya yang
percaya. Apalagi dengan logika yang dangkal ini, tidak sedikitpun ia yakin akan
apa yang mereka kisahkan.
Bahwa cinta itu butuh
pengorbanan,
Bahwa cinta itu hanya
memberi tanpa menghap imbalan,
Bahwa cinta itu putih,
suci, dan tanpa alasan
Bahwa cinta itu akan jatuh
dimana saja ia inginkan
Dan lagi, aku belum
percaya bahwa kisah klasik itu benar-benar ada, dari seorang laki-laki pada
seorang perempuan atau sebaliknya, yang bahkan mereka tidak punya hubungan
darah juga semacamnya.
Aku tau ini tidaklah
benar. Sama artinya aku mengkerdilkan arti cinta yang begitu luas. Lalu, kenapa
ini bisa terjadi begitu saja?
Ah, ya. Aku baru ingat.
Bagaimana kau bisa
percaya dengan cinta, jika ternyata kau telah disakiti oleh cinta, bahkan sebelum
kau benar-benar mengerti tentangnya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar