Sabtu, 31 Desember 2016

Ah, Cinta




Aku adalah manusia penasaran yang bergentayangan dengan seribu pertanyaan, tentang sesuatu yang tak jua ku paham. Cinta. Lagi-lagi cinta.

Jawaban pertama yang telah ku dapatkan adalah tentang cinta yang tak terdefinisikan. Aku berusaha menerimanya dengan lapang dada, bahwa memang tak ada seorangpun yang dapat mengartikannya dengan pasti dan sempurna. Mengidentifikasikannya dengan ciri khas tertentu seperti nama-nama ilmiah dalam biologi, atau menjabarkannya seperti dalam rumus-rumus matematika nan panjang dan rumit. Tapi sungguh, aku lebih memilih menghapalkan ratusan nama ilmiah itu, juga menguraikan rumus-rumus rumit itu, dibanding harus memahami satu kata yang abstrak layaknya cinta.

Aku tau para pujangga. Aku juga cukup tau karya-karya mereka. Dan aku suka cara mereka menyebut-nyebut cinta. Tapi dari sepenuh hati yang ku punya, hanya sekelumit darinya yang percaya. Apalagi dengan logika yang dangkal ini, tidak sedikitpun ia yakin akan apa yang mereka kisahkan.

Bahwa cinta itu butuh pengorbanan,

Bahwa cinta itu hanya memberi tanpa menghap imbalan,

Bahwa cinta itu putih, suci, dan tanpa alasan

Bahwa cinta itu akan jatuh dimana saja ia inginkan

Dan lagi, aku belum percaya bahwa kisah klasik itu benar-benar ada, dari seorang laki-laki pada seorang perempuan atau sebaliknya, yang bahkan mereka tidak punya hubungan darah juga semacamnya.

Aku tau ini tidaklah benar. Sama artinya aku mengkerdilkan arti cinta yang begitu luas. Lalu, kenapa ini bisa terjadi begitu saja?

Ah, ya. Aku baru ingat.

Bagaimana kau bisa percaya dengan cinta, jika ternyata kau telah disakiti oleh cinta, bahkan sebelum kau benar-benar mengerti tentangnya?  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar