Senin, 24 April 2017
Seseorang Itu
'Seseorang itu'
Aku
Dan aku dengan seseorang itu
Adalah fajar yang menjelma haru di langit biru
Yang menitikkan embun pada pucuk -pucuk layu
Yang menumpahkan asa pada celah-celah kayu
Lalu ia pun berlalu
Menjadi siang kerontang yang berdebu
Aku
Dan aku dengan seseorang itu
Adalah senja yang menjelma kelam di malam syahdu
Yang disambut indah purnama sendu
Yang berkawankan bintang-gemintang nan membisu
Lalu ia pun berlalu
Menjadi dini hari yang membuatku membeku
Tapi, seketika
Angin utara menyampaikan untukku sebuah doa
Tentang harapan pada mekarnya kuncup bunga
Merekah indah, juga bersahaja
Aku juga dibisikinya selarik rindu
Sambil berkata, bahwa hidupku pun tak hanya tentang aku
Tak hanya tentang seseorang itu
Tapi tentang sejuta cinta yang tercurah untuk hatiku yang satu
Lalu, sang waktu yang senantiasa bersamaku
Menemui angin utara yang rajin menyentuh pipiku
Berujarlah ia, "Bangunkanlah gadis yang terlelap"
Dan angin pun setuju
Ia membangunkanku, membantu kakiku berdiri satu-persatu
Pada akhirnya, sang waktu melakukan tugasnya
Ia pun membuatku lupa
Tentang siapakah ia
Seseorang itu
Rabu, 04 Januari 2017
Real Life of Japanese (based on true story)
Assalamu’alaikum...
Hai!
Ketemu
lagi sama tulisan aku (yang masih dibagiin lewat blogspot gini, do’ain aja biar
secepatnya bisa lewat website sendiri).
Kali
ini aku mau sedikit cerita soal pengalaman di Jepang kemaren. Tapi, aku nggak
ada maksud menyombongkan diri ya... Atau sekedar mau bilang ‘Proud of Me’. Aku
cuma mau bantuin teman-teman luar biasa yang udah sering keluar-masuk negri
orang tapi nggak sempat berbagi pengalaman lewat lisan maupun tulisan. Jadi,
aku bantuin nulisnya, tapi diwakilin sama pengalaman aku (yang sedikit) ini
aja.
Banyak hal menarik
tentang Jepang yang masih aku ingat sampai sekarang. Mungkin aku nggak bisa
sempurna dalam menceritakan, tapi semoga aja bisa diambil benang merahnya.
Mungkin juga, ada yang nggak sependapat dengan aku soal Jepang. Mohon maaf aja,
ya.
Japanese sama
sekali nggak ekspresif
Hal
yang terlintas di pikiran aku tentang Jepang (selain prestasi mereka yang
mengagumkan di bidang keilmuan) adalah tokoh-tokoh anime yang mereka ciptakan.
Dalam bayangan aku, kalau udah sampai Jepang aku akan dengar cowok-cowok Jepang
itu bilang ‘Sugoii!’ dengan suara parau plus satu jempol yang diacungkan juga
ekspresi wajah yang excited gak karuan, sampai-sampai kata ‘Sugoii’ itu
kedengarannya jadi ‘Segoiiikk!’ saking ekspresifnya. Aku juga ngebayangin akan
ketemu sama cewek-cewek bermata belo
yang ngomongnya super imut dan pipinya memerah kalau udah lihat gebetan.
Ternyata nggak. Benar-benar enggak.
Orang
Jepang bukan orang yang ekspresif. Mereka pemalu (banget), apalagi sama orang
baru. Saking nggak ekspresifnya aku susah bedain mana ekspresi mereka yang lagi
senang, sedih, panik, nggak suka, dll. Aku taunya kalau mereka ketawa, itu
artinya lagi senang. Selebihnya aku nggak tau lagi mereka sebenarnya sedang
ngerasain apa.
Japanese ‘nggak
butuh’ bahasa Inggris
Awalnya
merasa nggak pede waktu mau berangkat ke Jepang, takut nggak lancar ngomong
bahasa inggris karena selama ini berkutat seputar teks aja. Tapi kenyataannya,
di Jepang kita nggak terlalu butuh speaking
yang bagus. Sebagian besar penduduknya sangat sulit berbicara juga memahami
bahasa Inggris, kecuali segelintir orang seperti sensei dan mungkin pejabat negaranya. Mau sekeren apapun kamu
ngomong dalam bahasa Inggris, komunikasinya masih cukup susah. Jadi pakai
bahasa tubuh kayaknya lebih aman. Mungkin ini akibat mereka hampir punya
segalanya, jadi mereka merasa nggak perlu bergantung sama negara lain yang
membuat mereka harus berkomunikasi dengan bahasa internasional.
Jujur,
2 atau 3 hari pertama di Jepang aku kelabakan ngobrol dengan mereka termasuk
para sensei. Bayangin aja kalau
setiap kata dalam bahasa Inggris itu abjadnya diubah dari ‘L’ jadi ‘R’, ‘P’
jadi ‘F’, terus ‘N’ jadi ‘NG’ kalau posisinya di akhir kata. Alhasil kalau sensei
bilang sesuatu seperti ‘plant’, aku dengarnya ‘freng’. Gagal paham total. Aku
sama salah satu teman aku juga pernah panik dan hampir putus asa pas mau minta
kantong belanjaan di supermarket. Cuma buat milih kantong besar atau kantong
kecil aja susahnya minta ampun.
Bagi mereka (terutama teman-teman aku di labor), diam lebih baik dari salah bicara. Jadi mereka lebih milih diemin aku daripada salah-salah bicara pakai bahasa Inggris. Tapi mereka baik kok. Buktinya mereka ngerayain ulang tahun aku (yang sebenarnya nggak boleh dirayain) dan ingat sama hal-hal yang aku suka. Mereka juga berusaha kasih aku kesan yang baik dan tak terlupakan, terutama pas jam makan siang. Mereka akan berusaha keras ngomong pakai bahasa Inggris waktu ngajarin aku budaya sama bahasa Jepang, juga bercanda, meskipun harus siap sedia kamus elektronik dan kadang harus gotong-royong dulu buat cari English word yang tepat.
Beda
ya sama kita? Kita mah yang penting ngomong, meskipun ternyata isinya kosong.
Japanese sangat
menghargai privasi orang lain
Menjadi
muslimah dengan cara berpakaian yang kontras di antara masyarakat non-muslim
aku kira akan menjadi cobaan yang berat. Kalau di Indonesia aja yang
mayoritasnya muslim, cewek berjilbab lebar sering dicemooh, kadang dibilang
aliran sesat, gimana dengan negara yang mungkin nggak kenal Islam ini? Awalnya
aku kira mereka akan memberikan respon yang buruk terhadap kami. Tapi pada
kenyataannya mereka nggak pernah bermasalah dengan hal itu.
Aku
yakin mereka penasaran dengan kami. Tapi mereka benar-benar menghargai privasi
kami. Jangankan mencemooh, memelototi kami aja nggak pernah. Mereka lebih milih
melirik lewat sudut mata atau nggak nanya langsung. Biasanya yang nanya
langsung itu Ibu-ibu atau nenek-nenek. Kalau mereka udah nunjuk-nunjuk jilbab
sama nyebut-nyebut ‘Nihon go?’, jawab aja ‘Indonesia karakimashita’. Habis itu
izin pergi aja, karena kalau tetap stay di tempat, si Ibu atau neneknya akan
ngomong terus, nggak peduli kita ngerti atau nggak.
Aku
juga ingat waktu kami kuliah lapangan (bukan di lapangan bola ya, tapi di
alam). Aku sama sensei ditemenin 2
orang mahasiswa pascasarjana, satu cewek satu cowok. Aku nggak pernah bilang kalau
aku nggak bisa disentuh laki-laki, tapi entah kenapa mereka paham aja. Waktu kaki
aku nggak nyampe ngelangkahin sebuah sungai kecil, teman cowok aku rela lari-lari
ngambil batu yang cukup besar dari tempat yang agak jauh, terus mindahin batu itu
ke tengah-tengah sungai biar bisa aku injak, biar sepatu aku nggak basah. Waktu
turun dari puncak gunung yang cukup terjal, dia juga rela nginjak lumpur pake
sepatu kerennya buat kasih aku petunjuk bagian mana yang bisa diinjak biar
nggak kotor. Sedikitpun dia nggak mau sentuh aku, nyodorin tanganpun nggak.
Really, aku meleleh.
Benarlah firman Allah dalam Surah Al Ahzab : 59 yang artinya :“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Nah, terus gimana sama kamu yang udah Muslim
dari lahir? Masih aja mau sentuhan sama cewek yang bukan muhrim? Dan buat
cewek, masih aja nggak mau tutup aurat? Non muslim aja paham. Kamu kapan
pahamnya?
Segitu aja ya buat yang seriusnya. Sebenarnya
masih banyak banget kejadian tak terlupakan yang ngasih aku pelajaran berharga,
tapi kalau diceritain semua di sini bisa kesemutan nih jari. Maybe akan ada
part 2-nya kalau aku mood nulis lagi.
Selanjutnya aku mau kasih tau beberapa hal unik yang
aku temuin di Jepang. Anggap aja buat lucu-lucuan. Tapi singkat aja ya.
1. ‘Gandengan’
Sepemantauan aku waktu nongkrong di pinggiran kota Tokyo
selama hampir 2 jam, sebagian besar cowok Jepang terkategori ganteng. Beda sama
ceweknya yang terkategori biasa aja (bukan pendapat aku sendiri ya). Entah
kenapa berbanding terbalik sama yang di TV, cowoknya yang kebanyakan biasa aja,
ceweknya yang cantik-cantik. Tapi, cowok ganteng gak pernah jalan sendirian.
Jalannya ya sama gandengannya, cewek biasa aja. Kalau cowoknya nggak ganteng, dia
nggak jalan sama gandengan tapi jalan bareng temen-temen cowoknya.
2. Klakson mobil
Kami jarang banget dengar klakson mobil, sampai-sampai
kami mikir mobil di Jepang nggak ada klaksonnya. Sekali aku pernah dengar
klakson mobil cuma pas di Tokyo gara-gara ada cewek nyebrang nggak lihat
kiri-kanan.
Mungkin ini sebagai bentuk kecintaan mereka pada
ketenangan.
3. Hemat listrik (banget)
Satu hal yang bikin aku agak takut waktu di Jepang adalah
kegelapannya. Kalau kamu pulang malam, kamu harus siapin mental buat jalan
meraba di jalan raya karena sama sekali nggak ada lampu jalan. Gelap banget. Habis
itu di asrama ataupun di kampus mereka pakai sistem sensor suhu tubuh (kalau
nggak salah). Jadi kalau jalan di koridor sendirian, lampunya hidup pas di kamu
aja. Bagian koridor yang udah kamu tinggalin sama yang belum dilewatin akan
gelap total, seram. Aku jadi mikir, ini hemat apa pelit?
4. Pegawai Kasir
Kalau kamu belanja di minimarket ataupun supermarket maka
kamu akan ketemu dengan pegawai kasir yang seolah-olah terprogram kayak robot.
Mereka akan sebutin harga belanjaan kamu satu-persatu, nggak peduli sebanyak
apapun itu. Habis itu mereka akan sebutin jumlah uang yang mereka terima dari
kamu, jumlah total belanjaan, sama uang kembalian dalam satu tarikan napas. Dan
itu full bahasa Jepang. Padahal kita kan bisa baca sendiri di layar monitor
sama struknya. Bikin capek aja, ya.
Terus setelah semua prosedur selesai, mereka pasti
bilang, ‘Arigatou gozaimasu’ dengan intonasi yang khas.
Udah sekian aja. Semoga tulisan aku bisa
menemani malam teman-teman yang sunyi dan penuh tetes hujan ini. Lain kali bisa
jadi teman-teman akan punya cerita dan pengalaman sendiri. Mungkin Real Life-nya
Arab Saudi, Korea, Turki, Inggris, Cina, atau negara manapun yang ingin
teman-teman kunjungi.
Aku tunggu ceritanya, ya.
Sabtu, 31 Desember 2016
Ah, Cinta
Aku adalah manusia
penasaran yang bergentayangan dengan seribu pertanyaan, tentang sesuatu yang
tak jua ku paham. Cinta. Lagi-lagi cinta.
Jawaban pertama yang
telah ku dapatkan adalah tentang cinta yang tak terdefinisikan. Aku berusaha
menerimanya dengan lapang dada, bahwa memang tak ada seorangpun yang dapat
mengartikannya dengan pasti dan sempurna. Mengidentifikasikannya dengan ciri
khas tertentu seperti nama-nama ilmiah dalam biologi, atau menjabarkannya
seperti dalam rumus-rumus matematika nan panjang dan rumit. Tapi sungguh, aku
lebih memilih menghapalkan ratusan nama ilmiah itu, juga menguraikan
rumus-rumus rumit itu, dibanding harus memahami satu kata yang abstrak layaknya
cinta.
Aku tau para pujangga.
Aku juga cukup tau karya-karya mereka. Dan aku suka cara mereka menyebut-nyebut
cinta. Tapi dari sepenuh hati yang ku punya, hanya sekelumit darinya yang
percaya. Apalagi dengan logika yang dangkal ini, tidak sedikitpun ia yakin akan
apa yang mereka kisahkan.
Bahwa cinta itu butuh
pengorbanan,
Bahwa cinta itu hanya
memberi tanpa menghap imbalan,
Bahwa cinta itu putih,
suci, dan tanpa alasan
Bahwa cinta itu akan jatuh
dimana saja ia inginkan
Dan lagi, aku belum
percaya bahwa kisah klasik itu benar-benar ada, dari seorang laki-laki pada
seorang perempuan atau sebaliknya, yang bahkan mereka tidak punya hubungan
darah juga semacamnya.
Aku tau ini tidaklah
benar. Sama artinya aku mengkerdilkan arti cinta yang begitu luas. Lalu, kenapa
ini bisa terjadi begitu saja?
Ah, ya. Aku baru ingat.
Bagaimana kau bisa
percaya dengan cinta, jika ternyata kau telah disakiti oleh cinta, bahkan sebelum
kau benar-benar mengerti tentangnya?
Langganan:
Postingan (Atom)




