Sabtu, 30 Januari 2016

CINTA YANG MENGUATKAN




Bismillah...

Saya teringat kebiasaan lama sewaktu SMA dulu. Hampir setiap hari, sekitar pukul 06.00 pagi saya berjalan santai menuju sebuah lapangan di pusat kota Batusangkar. Saya akan berdiri selama 5-10 menit di tempat favorit saya, di bawah pohon yang selalu berbau seperti melati. Saya hanya akan berdiri mematung untuk sekedar merasakan angin dingin menerjang wajah, menenangkan pikiran. Jika beruntung mendapati pagi yang tidak berawan, saya dapat menikmati garis-garis oranye dari timur. Namun, satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah bertemu dengan ‘Habibie-Ainun’-nya kota Batusangkar.

Mereka adalah sepasang suami istri, usianya kira-kira 65-70 tahunan. Mereka selalu bergandengan tangan, berjalan dengan sangat pelan sambil bercakap-cakap dan sesekali tertawa bersama. Si kakek tak pernah lupa memakai peci hitamnya, sementara si nenek selalu memakai kerudung putih dengan payung motif pelangi di tangan kanannya. Saya akan terus memandangi mereka berdua hingga saya tak lagi dapat melihat sosok mereka di balik lapangan. Bagi saya ini adalah pemandangan yang paling mengharukan di setiap pagi yang pernah saya lalui.

Kira-kira 1,5 tahun yang lalu saya berkesempatan untuk singgah kembali ke kota Batusangkar. Alangkah terkejutnya saya karena setelah sekian lama saya dapat melihat kembali ‘Aktris’ idola saya meskipun dari kejauhan. Namun kali ini, ‘Ainun’ tampak sendiri tanpa ‘Habibie’. Saya mengedarkan pandangan mencari sosok kakek yang dulu selalu menggandeng tangannya, tapi nihil. Saya tidak menemukan sosok yang saya kenal. Tanpa sadar napas saya terasa sesak. Rasa sedih dan kasihan menggerogoti hati saya, karena yang saya lihat kali ini bukanlah ‘Ainun’ yang dulu selalu riang, tapi ‘Ainun’ yang hilang akal di tengah keramaian karena hilangnya pegangan.

Saya pikir hidup adalah pilihan, bahkan cinta juga pilihan. Kita boleh memilih akan memiliki cinta yang seperti apa. Cinta yang menguatkan? Atau cinta yang melemahkan bahkan menghancurkan?
Menurut saya hanya ada satu CINTA yang menguatkan, yaitu cinta kepada yang ABADI. Maka tidak akan ada yang menyangkal bahwa juga hanya ada SATU yang abadi yakni Sang Pencipta, Allah SWT. Jika kita mencinta kepada yang fana, maka cinta itu akan menjadi cinta yang juga fana, dapat melemahkan bahkan menghancurkan.

Lalu apakah yang fana itu?

Saya, Anda, orangtua, keluarga, sahabat, harta kekayaan dan semua yang Allah ciptakan, kita adalah FANA. Tidak kekal, tidak abadi.
Semoga kita semua memiliki Cinta pada yang Abadi, Cinta yang Menguatkan.


Kisah ini saya tuliskan sebagai bentuk permintaan maaf sekaligus terima kasih untuk nenek saya yang baru saja meninggal dunia, yang memiliki ‘Cinta paling  Menguatkan’ hingga ia, seorang wanita tua tanpa sosok suami mampu tabah mendampingi salah satu putrinya yang juga tanpa suami dalam membesarkan 3 orang anak, yang selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia akan diberi kesempatan untuk hidup lebih lama dan dapat menggendong cicit dari saya (tapi belum bisa saya penuhi :’( )
Mohon do’a dari teman-teman pembaca agar beliau dihindarkan dari segala siksa kubur dan semua amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT. Aamiin...



Sabtu, 23 Januari 2016

Belajar dari Dani : Siswa kelas 2 SMA kelahiran '93





Assalamu’alaikum wr.wb..

Kali ini saya ingin bercerita soal seorang laki-laki yang cukup memberi insipirasi kepada saya. Ia tidak pernah memberikan saya untaian kata-kata bijak, bahkan bertemu pun kami tidak pernah. Ia sebaya dengan saya, kelahiran ’94. Tapi banyak kabar burung yang beredar bahwa ia bahkan lebih tua setahun dari saya, kelahiran ’93. Ia adalah teman akrab adik saya, sebut saja namanya Dani. Seorang siswa kelas 2 (XI) di sebuah SMA di desa tempat saya dibesarkan.

Saya rasa kita semua memiliki pikiran yang sama saat membaca prolog di atas. Ya, aneh memang. Seseorang yang berumur 21/22 tahun masih duduk bangku SMA. Padahal seharusnya ia telah berkecimpung dengan dunia perkuliahan, dunia skripsi, dunia tahun akhir. Tapi saat ini Dani masih sibuk dengan tugas-tugas sekolah dan teman-teman berseragam putih abu-abu-‘nya’.
Sebelum kita membicarakan tentang perjuangan Dani, baiknya kita mengetahui sedikit gambaran fisik dari tokoh kita ini. Saya yakin kita semua tau tentang ciri-ciri fisik para penderita autisme. Suku apapun mereka, bangsa apapun mereka, kulit hitam ataukah putih, mereka punya wajah yang hampir serupa satu sama lain, benar? Nah... saya minta Anda membayangkan Dani memiliki wajah unik seperti itu, tapi dengan mata yang sedikit lebih ‘belo’. Dani memiliki tubuh yang lebih besar dibanding teman-teman seangkatannya dan juga punya suara yang terdengar lebih nge-bass (kebapakan). Jika Anda adalah tipe orang yang suka memperhatikan orang lain secara detail dan suatu ketika punya kesempatan bertemu Dani, Anda akan mendapati Dani sebagai seorang pengguna ikat pinggang yang buruk. Ciri khas Dani yang dapat Anda ketahui adalah ia sangat sayang pada ikat pinggangnya yang bertuliskan ‘JEANS’. Saking sayangnya ia selalu ingin membaca tulisan ‘JEANS’ itu dengan baik, tak peduli orang-orang melihatnya memakai ikat pinggang dengan terbalik (tulisan ‘JEANS’ menghadap ke atas). Adik saya termasuk orang yang paling prihatin kepada Dani karena olokan teman-temannya masalah ikat pinggang itu. Berkali-kali ia coba pahamkan pada Dani bahwa caranya memakai ikat pinggang itu salah, tapi Dani tidak pernah mendengarkan. Ia selalu bangga dengan ikat pinggang ‘JEANS’-nya.
Dani adalah orang yang sangat gigih. Saya dan juga adik saya (yang nenjadi narasumber tunggal untuk cerita ini) tidak mengetahui motivasi apa yang dimiliki Dani untuk menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat Sekolah Menengah Atas. Kebanyakan dari anak-anak desa yang keluarganya juga kurang paham akan pentingnya pendidikan biasanya lebih memilih berhenti sekolah jika sudah pernah tinggal kelas 2 atau 3 kali. Mereka akan ikut dengan para pedagang ke Pekanbaru atau sekedar menjadi preman yang setiap hari minta uang kepada orangtua untuk beli rokok, berbeda dengan Dani. Ia belum kehilangan semangat belajarnya bahkan setelah tinggal kelas berkali-kali.
Dani harus menghabiskan Rp 20.000,00 dari uang sakunya untuk pulang-pergi ke sekolah dalam satu hari. Jika beruntung, ia boleh membayar Rp 7.000,00 saja untuk sampai ke sekolah, itupun kalau menumpang dengan ojek langganan. Jika sedang tidak ada uang untuk pulang, Dani tidak segan-segan berjalan kaki di bawah terik matahari untuk sampai ke rumah. Untunglah, akhir-akhir ini saya dengar Dani mendapat tumpangan dari tetangganya yang baru saja pindah ke sekolah yang sama.
Dani, dengan segala keunikannya menjadi ‘mangsa’ olokan bagi teman-temannya. Tidak hanya soal ikat pinggang, Dani pernah diolok habis-habisan karena rangkingnya di kelas. Ia menempati rangking terakhir, rangking 25 dari 25 orang siswa. Tapi taukah Anda apa yang dilakukan Dani untuk membalas olokan itu? Ia belajar dengan sekuat tenaga, membuat tugas sekolah dengan sekuat tenaga, memahami segala sesuatu dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya ia berhasil meloncat dari rangking 25 ke rangking 23, mengalahkan dua orang yang tadinya adalah ‘pengolok-olok’ setianya.
Seseorang pastinya akan lebih kuat menghadapi kehidupan yang keras jika didukung oleh orang-orang yang ia cintai, tapi tidak dengan Dani. Saya sendiri bingung dengan semangatnya yang bahkan mengalahkan semangat orang-orang yang diberi keberuntungan lebih oleh Allah, padahal ia tidak begitu mendapat dukungan bahkan dari keluarga terdekat. Contohnya saja, pernah suatu ketika Ayah Dani datang ke sekolah untuk menjemput rapor Dani. Ada denda Rp 5.000,00 yang harus dibayar (mungkin denda untuk ketidakhadiran saat classmeeting atau semacamnya) sebagai syarat pengambilan rapor. Wajarnya seorang anak, Dani meminta uang itu pada ayahnya demi menghemat uang jajan. Tapi tak sehelai pun uang yang keluar dari saku ayahnya yang seorang guru olahraga SD itu, padahal rapor tersebut sudah harus diambil. Akhirnya Dani mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan kucel dan uang koin dari dalam sakunya hingga semua uang jajannya habis tak bersisa.
Dani juga punya seorang adik laki-laki yang cerdas, tapi akhlaknya sangat buruk. Adiknya adalah seorang perokok yang seringkali memalak Dani. Sebagai seorang kakak, Dani tidak absen menasihati adiknya agar berhenti menghabiskan uang untuk hal yang merugikan itu. Alhasil, ia diabaikan dan malah diancam oleh adiknya sendiri hanya karena Dani tidak dianggap sebagai kakak yang normal. Bukan tak pernah Dani malah memecahkan celengan pribadinya karena tidak sanggup menolak permintaan adik satu-satunya. Tidak hanya itu, teman-teman Dani yang sekarang telah duduk di bangku kuliah enggan untuk berkawan dengannya, bahkan sekedar mengucapkan ‘Hai, Dani!’ hanya karena Dani dianggap tidak normal.
Jadi, apa kesimpulannya?
Kita semua pastilah tidak terlahir dengan ‘pilihan’ kita sendiri. Siapa yang bisa memilih ia akan lahir sebagai manusia ber-IQ tinggi? Dan siapa yang pernah berharap ia akan lahir dengan ‘keunikan’ dan ‘keterbatasan’?
Jika Dani membutuhkan usaha yang berkali-kali lipat lebih keras hanya untuk menyelesaikan pendidikan wajibnya, saya dan Anda telah berhasil menyingkirkan puluhan orang dengan imipian yang sama untuk 1 kursi yang kita duduki di Perguruan Tinggi Negri. Jika Dani harus berkuras tenaga hanya demi meloncat dari rangking 25 ke rangking 23 di kelasnya, saya dan Anda sudah berkuras tenaga untuk berkompetisi dengan orang-orang pilihan dari berbagai daerah dan berhasil sampai ke titik ini. Jika Dani punya semangat yang membara meskipun tidak didukung oleh orang yang ia cintai, saya dan Anda punya keluarga yang memberikan support sepenuhnya dengan motivasi yang berlimpah-ruah.

 Lalu, mengapa kita masih mengeluh? Nikmat Tuhan yang manakah yang kita dustakan?

Kamis, 07 Mei 2015








Assalamu'alaikum wr.wb..

Hai, aku Wika, umur 20 tahun, semester VI di jurusan Biologi Universitas Andalas.
Yoroshiku Onegaishimasu!! ^_^

Tulisan ini adalah hasil perenungan seorang mahasiswi yang biasanya wara-wiri di kampus untuk kuliah, praktikum atau berorganisasi. Jika malam-malam biasanya hanya dihabiskan untuk mengejar deadline tugas, malam ini aku berkesampatan untuk sedikit berbagi cerita.

Ini soal wanita. Sesosok manusia yang rumit dan yang pasti tidak pernah terlepas dari satu kata ini: 'Cantik'.

Cantik adalah satu kata yang bersifat subyektif. Cantik tidak dapat didefinisikan secara mutlak. Cantik bagi seseorang belum tentu cantik bagi orang lain. Sebagian besar orang (dari survey yang pernah saya lakukan) tidak setuju jika cantik adalah satu-satunya pilihan kata yang digunakan untuk mengungkapkan bahwa seorang wanita memiliki sesuatu yang menyenangkan untuk dipandang.

1.    Manis
Kata ‘manis’ sering digunakan untuk menyatakan bahwa wanita tersebut cantik secara alami. Maksudnya, wanita yang termasuk ke dalam kategori ini biasanya tidak menggunakan make up berlebihan, dandan sederhana, sikap yang tidak dibuat-buat, tetapi memiliki paras yang membuat orang-orang tidak bosan memandangnya.
2. Imut (Kawaii desu ne...!)
Kata ‘imut’ biasanya digunakan untuk menyebut seseorang yang punya baby face. Umumnya suara nyaring, agak hyperaktif, banyak bicara, tapi tidak menyebalkan tentunya. Secara penampilan biasanya si imut suka memakai aksesoris serba heboh, pinky-an atau setidaknya suka memakai barang-barang berwarna mencolok
3. Anggun
Anggun biasanya adalah panggilan untuk wanita yang suka memakai rok, longdress, tas bermerek atau aksesoris lain yang terlihat berkelas. Selain itu, wanita model ini adalah yang  paling ketat dalam menjaga tata krama. Kita tidak akan pernah menemui wanita ini makan belepotan, bersifat kekanak-kanakan atau tertawa terbahak-bahak tidak jelas. Wanita anggun akan berlaku sebagai seorang wanita terhormat.
4. Cantik
Cantik adalah kata yang biasa digunakan untuk menggambarkan bahwa seorang wanita pandai merias diri. Ia mahir memadu-madankan pakaian, mahir memakai hijab, mahir menggunakan make up dan yang paling penting, rela berusaha keras untuk memperbaiki penampilan. Biasanya seseorang yang merasa cantik tidak akan rela kehilangan secuil pun kecantikannya, meskipun hanya gara-gara satu jerawat.
Kita dapat menetapkan seseorang ke dalam salah satu kategori di atas. Salah satu caranya adalah melihat sikap yang diambilnya saat menghadapi situasu tertentu. Jom, kita lihat kisah ni!
*Kisah mbak sales produk kecantikan
Kisah 1 (Si Manis)
Mbak sales           : Mbak, ini ada produk baru. Bagus lho! Ada foundation anti UV, lightening, facial wash anti acne, (bla..bla..bla). Udah banyak juga yang pakai. Hasilnya terbukti bagus, ampuh deh pokoknya. Mau pilih yang mana?
A                         : Beneran nih mbak?
Mbak sales           : Ya ialah mbak... Masa saya bohong?
A                         : Tapi selama ini saya pakai produk mana pun, hasilnya gak terlalu kelihatan tuh. Hampir gak ada perubahan. Saya jadi malas pakai yang gitu-gituan.
Mbak sales           : Aduh mbak... Masa gak percaya sih? Coba perhatiin (menunjuk wajah sendiri, mencoba memberikan bukti)
A                         : Apanya yang harus diperhatiin nih mbak? Jerawat apa komedonya?
Mbak sales           : -_-

Kisah 2 (Si Imut)
Mbak sales           : Mbak, ini ada produk baru. Bagus lho! Ada foundation anti UV, lightening, facial wash anti acne, (bla..bla..bla). Udah banyak juga yang pakai. Hasilnya terbukti bagus, ampuh deh pokoknya. Mau pilih yang mana?
A                         : Wah... Wangi. Saya suka!
Mbak sales           : Makanya, beli aja mbak. Lagi diskon nih!
A                         : Oh ya?? Tapi... Saya nggak mau beli yang ini
Mbak sales           : Terus yang mana? Kan masih banyak produk yang lain, ayo silahkan dipilih..
A                         : Ikat rambut motif bunga, motif kupu-kupu, ada nggak? yang pink-pink cantik? atau boneka lucu-lucu, comel-comel, ada?
Mbak sales           : Isshhh... Saya ini sales produk kecantikan lah mbak, bukan pelayan toko aksesoris!!

Kisah 3 (Si Anggun)
Mbak sales           : Mbak, ini ada produk baru. Bagus lho! Ada foundation anti UV, lightening, facial wash anti acne, (bla..bla..bla). Udah banyak juga yang pakai. Hasilnya terbukti bagus, ampuh deh pokoknya. Mau pilih yang mana?
A                         : Yang ini berapa mbak? (menunjuk salah satu produk)
Mbak sales           : Murah kok mbak, 90 ribuan aja dikurang diskon
A                         : Kalau yang ini? (menunjuk produk yang lain)     
Mbak sales           : Kalau yang ini 100 ribuan mbak, udah dikurangi diskon juga
A                         : Ih? Kok murah banget? Barangnya asli gak sih mbak?
Mbak sales           : Asli lah mbak... Kan tadi saya kasih diskon. Kalau mbak mau bayar lebih mahal ya silahkan.
A                         : Nggak jadi beli aja deh mbak. Nanti malah nggak cocok sama kulit saya
Mbak sales           : (pergi sambil ngomel-ngomel)

Kisah 4 (Si Cantik)
Mbak sales           : Mbak, ini ada produk baru. Bagus lho! Ada foundation anti UV, lightening, facial wash anti acne, (bla..bla..bla). Udah banyak juga yang pakai. Hasilnya terbukti bagus, ampuh deh pokoknya. Mau pilih yang mana?
A                         : Yang ini berapa mbak? (menunjuk salah satu produk)
Mbak sales           : Murah kok mbak, 90 ribuan aja dikurang diskon
A                         : Kalau yang ini? (menunjuk produk yang lain)     
Mbak sales           : Kalau yang ini 100 ribuan mbak, udah dikurangi diskon juga
A                         : Kok mahal amat sih mbak…? Kasih diskon lagi dong
Mbak sales           : Itu diskonnya udah gede mbak. Nanti kalau saya tambah lagi saya bisa rugi.
A                         : Tapi ini masih kemahalan mbak… Turunin lagi dong harganya, please…
Mbak sales           : Nggak bisa mbak, ini udah paling murah
A                         : Ya udah, saya nggak jadi beli aja deh! (pergi dengan sangat kecewa)
(Beberapa menit kemudian)
A                         : Mbak… Please… Kurangi harganya lagi dong…

Sebenarnya masih banyak lagi kategori-kategori bagi para wanita, misalnya seperti elegan, glamour, cute, feminim dan lain-lain. Tapi nggak usah dibahas lah, aku juga nggak ngerti.

Poin penting yang bisa kita ambil adalah semua kategori-kategori di atas berasal dari pandangan orang lain. Pandangan tentu saja adalah sesuatu yang bersifat subyektif. Jadi, jika suatu saat ada yang mengatakan kamu manis, mungkin orang lain akan mengatakan kamu anggun, cantik atau imut. Mungkin yang lebih parah ada yang menganggap kalau kamu itu… Jelek.

So girls, sudikah kiranya berpusing-pusing dengan segala anggapan orang?
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin ‘Ash)
Sudah sangat jelas kalau wanita itu adalah sebaik-baik perhiasan, bukan? Pastinya perhiasan yang paling baik adalah perhiasan paling mahal yang akan memukau semua orang tanpa perlu perdebatan atau perbedaan pendapat. Kita dapat menganalogikannya dengan emas imitasi, emas murni, atau berlian. Siapa yang menyanggah kalau berlian adalah perhiasan yang paling baik dan mahal di antara ketiganya?

Tapi… Ada syaratnya!
Syaratnya adalah kamu harus menjadi wanita SHALIHAH. Wanita shalihah adalah wanita yang mencintai Allah melebihi segalanya, sehingga karena cintanya itu ia rela melakukan apapun yang diperintahkan oleh Allah. Salah satunya tentu mematuhi perintah dalam menutup aurat.

Menutup aurat itu nggak ribet, kok! Kita hanya harus mengikuti beberapa standar berikut: menutup tubuh kecuali wajah dan telapak tangan; tidak membentuk apa yang ditutup; tidak transparan. Nah, simple kan?? Kalau sudah begitu, Inshaa Allah kamu akan menjadi orang yang dapat menyenangkan dan disenangi orang lain.

Semoga bermanfaat ^_^