Jumat, 19 Agustus 2016

Dini Hari dalam Kelam



Pada awalnya aku tidak berniat sama sekali menulis tentang ini. Aku tersentak pukul 2 pagi, menyelesaikan semua kegiatan peribadatan, lalu bertekad melanjutkan tulisan-tulisan yang sudah kugeluti selama berminggu-minggu. Tulisan yang membuat kemampuan bersastraku yang minim ini menjadi semakin berkurang. Ya, itulah skripsi. Hanya penuh dengan analisa dan landasan teori. Tapi, sebelum melanjutkan tekad tersebut iseng-iseng ku aktifkan wifi lalu ku buka akun facebook-ku, siapa tau ada kabar yang cukup penting.

Tak lama men-scroll  beranda fb, aku menemukan tulisan salah seorang seniorku di kampus. Beliau tidak satu jurusan denganku, tapi sedikit banyaknya aku tau tentang beliau. Pemuda yang sering wara-wiri di hampir setiap kegiatan kampus, terkenal menginspirasi dan sangat bersemangat. Beliau juga punya banyak prestasi yang mungkin tidak lagi terhitung dengan jari. Dan hei, siapa yang tidak akan kenal dengannya? (paling-paling ia yang tidak kenal denganku). Tapi sungguh, ini bukan soal pribadi beliau. Ini soal kehidupan masa lalunya yang ternyata begitu luar biasa. Aku tidak pernah menyangka akan mendengar (red: membaca) kisah se-menyedihkan itu dari orang yang berada di sekitarku. Kisah yang sering kutemui di novel-novelnya Andrea Hirata yang selama ini ku anggap hanya fiksi belaka. Fix, seniorku dan tulisannya itu berhasil membuat mataku berkaca-kaca.

Beberapa menit kemudian aku telah menyelesaikan membaca tiga atau empat tulisan beliau di blognya. Aku kembali ke beranda fb, men-scroll lagi ke bawah. Aku menemukan sebuah video yang dibagikan oleh temanku. Ia memberi sedikit komentar pada video itu hanya dengan satu kata, ‘heartbreaking’. Video itu tentang serangan di Syria dan seorang bocah kecil bernama Omran yang selamat dari kematian. Ia hanya terduduk di kursi setelah diselamatkan oleh para relawan dan terdiam tanpa air mata, sedikitpun. Sesekali ia menyeka darah yang mengalir di dahinya lalu kebingungan harus membersihkan tangannya dimana, hingga akhirnya tangan yang berlumuran darah itu digosokkannya ke kursi tempat ia duduk. Oh Omran, kau berhasil membuat air mataku tumpah-ruah dini hari ini.

Seketika aku tersadar, bahwa sejatinya aku tidak lebih dari siapapun. Aku hanya seorang gadis beruntung yang diberi kesempatan untuk belajar dari pengalaman hidup orang-orang luar biasa. Aku bisa merasakan kesedihan, kesempitan, kesakitan dan luka yang sangat mendalam tanpa harus ditimpakan. Hanya ada 2 kisah yang cukup menyakitkan bagiku selama aku hidup. Pertama, dilupakan oleh seseorang yang ku anggap cinta pertama (padahal mungkin itu hanya cinta monyet yang dibumbui penghayatan seperti cerita cinta dalam sinetron). Kedua, merasa tidak dianggap selama tiga tahun di SMA. Hanya itu, dan aku merasa seolah-olah hidup tidaklah adil. Padahal sebenarnya, ujian ku belum sepersekian dari ujian mereka, dan sebenarnya di luar sana banyak orang-orang hebat yang menjadi hebat karena kesabarannya dalam menghadapi ujian yang luar biasa berat.

Maka tidak ada lagi alasan bagiku untuk berkeluh kesah. Alasan yang ada hanyalah tentang bagaimana rasa simpati ini terus-menerus tumbuh, dan bagaimana caranya agar kebahagiaan dan keberuntungan yang ku miliki sekarang dirasakan oleh banyak orang, sebagaimana kesedihan dan kesakitan mereka memberiku banyak pelajaran. Jika tetap saja sibuk berkeluh kesah, mungkin aku – atau juga kita – akan gagal mejadi manusia.

Terimakasih untuk semua tulisan-tulisan kalian. Terimakasih sudah bersedia berbagi pengalaman.



Padang, dini hari dalam kelam 
Ditemani alarm teman-teman kos yang silih berganti berbunyi tanpa mampu membangunkan

Kamis, 02 Juni 2016

'Hujan Bulan Juni'-ku




Ialah yang pertama kali datang. Ia menyusup ke dalam relung hatiku yang terdalam dengan perlahan serta membawa kedamaian. Aku bisa saja bertingkah bodoh di depannya tanpa sedikitpun rasa malu. Aku bisa saja berpura-pura menjadi wanita lemah yang selalu butuh pertolongan. Aku juga bisa berpura-pura membutuhkan izin darinya untuk melakukan sesuatu, lalu malah bersemu merah saat ia melarangku melakukannya hanya demi keselamatan atau kebahagiaan diriku. Dan ternyata ia hanya ‘angin musim gugur’-ku. Berhembus pelan, memberikan kesejukan, tapi lama kelamaan membuatku menggigil dan sulit bertahan. Aku baru tersadar saat pada akhirnya ia memilih orang lain dan meninggalkan aku sebagai orang yang selama ini ‘dikasihani’. Ia memang tidak memilihku. Tidak pernah.

Lalu datang lagi seseorang dengan berjuta impian. Ia yang selalu menguatkanku dan mengangkatku sebagai wanita yang kuat, wanita yang harus selalu menatap ke depan. Ia yang selalu menyemangatiku untuk mengejar impian tanpa peduli dengan rintangan yang menghadang. Ia yang mengubah setiap sendi-sendi tubuhku menjadi kerangka yang kokoh dan mengaliri setiap nadiku dengan pengharapan. Lalu apa? Ternyata ia hanya ‘pelangi sore hari’-ku, menghilang begitu saja setelah milyaran bintang-gemintang nan cantik memenuhi langit. Ia juga tidak memilihku.




Dan yang terparah adalah kamu, ‘hujan bulan Juni’-ku. Tak peduli aku dengan seberapa puitisnya para pujangga memujamu atas rintikmu yang katanya penuh rindu. Yang ku lihat saat ini hanyalah hujan badai yang menakutkan seakan-akan mampu memporak-porandakan segalanya. Aku tidak akan membiarkanmu membasahi celah-celah hatiku. Tidak untuknya yang telah lama hancur, remuk-redam. Tidak pernah berani aku memintamu dalam do’a, menyebut-nyebut namamu di hadapan-Nya, ataupun sekedar berkhayal bahwa kita akan bersama. Aku tidak akan membiarkan benih-benih itu tumbuh. Aku tidak siap jika ternyata kamu ditakdirkan menjadi ‘hujan bulan Juni’-ku yang turun bersama badai, lagi-lagi membuatku luluh lantak.


Benarlah kata orang bijak bahwa harapan beriringan dengan kekecawaan. Sebanyak apa kamu berani berharap, sebanyak itu pula kamu bersiap untuk kecewa. Lalu jangan sangka bahwa memendam rasa adalah perkara yang mudah, akan tetapi perkara yang senantiasa dibayang-bayangi rasa sakit atas kekecewaan yang menghujam. Maka cukuplah jika benih yang tumbuh hanya akan menjadi pohon keimanan yang kokoh kepada Allah, Sang Maha Pengasih. Cukuplah jika benih yang tumbuh hanya akan menghasilkan buah-buah manis kecintaan kepada Allah, Sang Maha Penyayang. Cukuplah jika air mata yang jatuh hanya karena memohon ampunan kepada Allah, Sang Maha Pengampun. Cukuplah jika aku hanya meminta seseorang yang mencintai Allah selayaknya aku mencintai-Nya, tidak harus kamu, tidak pula dia.

Sabtu, 28 Mei 2016

Gadis Tanpa Nama



         Namaku Sinta, mahasiswi semester IV di salah satu Fakultas Kedokteran ternama di Indonesia. Aku bukanlah gadis manja yang dengan lapang dada berkutat di sekeliling rumah atau sekedar berkarir di kota kelahiran, tapi aku adalah gadis dengan jiwa petualang. 
       Kala itu bulan September. Aku baru saja memenangkan sebuah perlombaan karya ilmiah tingkat nasional. Aku mempercepat langkahku menuju rumah demi memberitahukan kabar gembira ini kepada keluargaku.
       “Ayah...! Ibu...! Aku menang lagi.” Aku bersorak riang dan memeluk pundak kedua orangtuaku dari arah belakang.
       “Coba ayah lihat.” Ayah mengambil sertifikat dari tanganku lalu mangguk-mangguk takjub bersama ibu. “Alhamdulillah. Kami sangat bangga padamu, nak.” Mereka mengusap-ngusap kepalaku.
       Seribu kali sayang, kebahagiaan ini tidak berlangsung lama. Aku mendengar gemerincing lampu kristal. Aku juga merasakan tanah di bawah kakiku bergerak, semakin lama semakin cepat hingga aku kesulitan untuk berdiri. Kalimat takbir tak hentinya keluar dari mulut ayah dan ibu saat menarik lenganku dan mengajakku untuk segera keluar dari ruangan. Aku pun berlari mengikuti mereka namun Allah berkehendak lain.
       Kakiku terkilir. Segelas air yang tumpah di atas lantai membuatku terjerembab. Aku tidak bisa bergerak sedikitpun. Berkali-kali aku mencoba memanggil kedua orangtuaku yang sekarang sudah berada di tempat yang aman, tapi nihil. Mereka tidak mendengar bahkan tidak menyadari bahwa aku tidak bersama mereka.
       Aku melihat atap rumah rubuh menimpaku, kemudian semuanya menjadi gelap.

       “Ibu... Aku dimana?” tanyaku saat baru saja membuka mata. Ruangan luas ini amat asing bagiku dan tak ada yang kukenali di ruangan ini selain ibu.
       “Kau di rumah sakit, nak.”
       Aku terdiam untuk beberapa saat. Aku tidak ingat apa yang terjadi padaku hingga aku harus tergeletak di sini. Aku juga menyadari bahwa mata ibu sembab dan suaranya tertahan meskipun ia tampak berusaha keras untuk tersenyum.
       Rasa penat tiba-tiba menjalar di punggungku dan memaksaku untuk berdiri. Aku menyibakkan selimut dari tubuhku dan mencoba menurunkan kedua kakiku. Tapi tidak, yang kudapati adalah mimpi buruk.
       “Ibu!!! Ada apa dengan kakiku?” Aku meraung, tidak percaya dengan penglihatanku sendiri.
       “Tidak apa-apa, nak. Semuanya akan baik-baik saja.” Ibuku segera merangkul pundakku dan berusaha menyemangatiku.
       “Apanya yang baik, bu?? Lihat ini!!” Aku memukul-mukul pahaku. “Aku kehilangan kedua kakiku!”
       Ibuku terdiam. Ia hanya bisa menangis bersamaku. Ia terus mengelus-elus rambutku sampai aku tak berdaya lagi mengeluarkan air mata. Aku tau bahwa sepahit apapun aku harus menerima kenyataan ini, tapi otakku menolak.
       Aku terpuruk. Tidak ada lagi yang lebih kubenci selain diriku sendiri dan kursi roda ini.
     Hari-hari terus berlalu tanpa mempedulikan perasaanku. Keputusasaan akhirnya menenggelamkanku dalam kesedihan dan berhasil membawaku ke dalam jurang yang lebih dalam. Aku berpikir bahwa keberadaanku di dunia ini hanya dalam kesia-siaan, karena bagiku hidup tak berguna jika tanpa impian yang bisa diwujudkan. Diam-diam aku mendorong kursi rodaku ke tepi jurang di belakang rumah dan berharap tidak dapat merasakan apa-apa lagi. 
     “Berhenti!!” perintahku pada seorang gadis yang tiba-tiba kulihat berjalan lurus ke tepi jurang. Aku segera membelokkan kursi rodaku ke arahnya lalu menarik tangannya tanpa peduli lagi dengan niatku sebelumnya.
       “Ada apa?” Ia malah bertanya seperti tidak tau apa-apa.
       “Di depan sana ada jurang. Jika kau jalan terus kau bisa mati.” Aku lalu memperhatikannya dengan seksama. “Kau buta?”
       “Iya.” Gadis itu mengangguk dan tersipu malu. “Maaf telah merepotkan.”
       Kami berdua berjalan menjauhi tepi jurang menuju sebuah pondok kecil yang agak jauh dari sini. Aku sampai terlebih dulu di pondok saat rintik hujan mulai turun.
       “Hey! Apa yang kau lakukan di sana? Ayo masuk!” Aku berusaha mengajaknya yang tidak ikut bersamaku.
       “Tunggu sebentar.” Ia malah menengadahkan wajahnya ke langit dan membiarkannya basah. Aku semakin heran melihat tingkahnya. Ia baru berteduh bersamaku saat hujan semakin deras.
       “Suka hujan?” Aku mencoba bertanya dengan seramah mungkin.
       “Sangat suka. Hujan membuat wajahku terasa dingin.” Ia memegangi kedua pipinya.“Kau bisa ceritakan padaku bagaimana rupanya?” Ia bertanya penuh semangat.
       “Kau... Tidak pernah melihat hujan?” Aku gugup sekaligus keheranan.
       “Tidak. Aku buta sejak lahir.”
       Aku tersentak, tidak tau harus berkata apa. Bagiku hujan tidak seberarti ini.    
      “Sebelum hujan turun kau akan melihat awan mendung menggelantung di langit, menutupi matahari hingga membuat semuanya tampak lebih gelap. Ia akan turun perlahan-lahan, sedikit demi sedikit lalu semakin banyak,” jelasku terbata-bata.
       “Benarkah? Lalu pelangi itu seperti apa?” Ia semakin bersemangat.
       Aku berpikir sesaat untuk mencari kata-kata yang tepat. “Ia punya tujuh warna yang tersusun dalam setengah lingkaran dan muncul setelah hujan. Kau tidak pernah bisa melihat kedua ujungnya.”
       “Wahh... Aku tidak sabar melihatnya.” Ia bertepuk-tepuk girang dengan wajah berseri-seri.
       “Kau yakin bisa melihatnya?” Aku bertanya tanpa sedikitpun berniat menghancurkan harapannya.
       “Pasti. Suatu saat. Walaupun sesaat.” Ia tersenyum tanpa menoleh padaku. “Kau punya impian apa?”
       “Aku... Ingin menjadi seorang dokter,” jawabku malu-malu.
       “Wah! Luar biasa. Kau harus semangat, ya! Aku yakin kau tidak akan menyerah dalam kondisi apapun. Lewat tanganmulah Allah akan menyelematkan hamba-Nya.” Ia menepuk pundak kananku.
       Aku tertunduk. Hampir saja aku kalah dari gadis ini. Gadis buta yang hanya bermimpi melihat pelangi. Lihatlah wahai gadis tanpa nama, akulah yang akan mengobatimu kelak.

-THE END-   

Kamis, 26 Mei 2016

Jangan Takut Ditolak (Dekati Dia!)



Assalamu’alaikum wr.wb...

Kayfa haalukum? Semoga kalian semua selalu dalam keadaan sehat
Kira-kira, ada yang merasa tertipu dengan judul di atas? Kalau iya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini bukan soal ‘dia’ yang sering kamu kode di media sosial, bukan soal ‘dia’ yang sedang kamu tunggu, bukan juga soal ‘dia’ yang selalu kamu sebut dalam do’a-do’amu. Ini lebih dari itu. Ini soal ‘Dia’ Sang Maha Segalanya. Kalau kamu nyesel udah buka blog ini (karena ternyata tulisan ini tidak akan membahas soal cinta-cintaan), ya legowo aja. Insya Allah bermanfa’at. ^_^

Saya tergerak untuk menulis tentang ini karena saya rasa beberapa hari ini saya sering mendapatkan ‘keajaiban’. ‘Keajaiban’ yang membuat saya lupa bahwa sebelumnya saya pernah merasa panik, tidak tau jalan keluar, bahkan hampir ingin menyerah. Ia dititipkan Allah pada orang-orang baik di sekitar saya, pada teman-teman dekat maupun pada orang yang baru saya kenal. Masya Allah...

Semuanya berawal dari sebuah proposal penelitian yang saya sodorkan di akhir semester kemarin, yang dalam beberapa waktu lalu baru diizinkan untuk diseminarkan. Saya ingin menyebut proposal ini sebagai hal ‘ternekat’ yang pernah saya lakukan. Karena apa? I have nothing to do that!!! Saya hanya berusaha memperjuangkan apa yang saya sukai dan tidak mau pindah ke lain hati. Eh, ke lain tema maksudnya. Agaknya saya termasuk tipe orang yang susah move-on sehingga tidak ada tema apapun – selain tema yang saya geluti saat ini – yang mampu menaklukkan hati dan pikiran saya. Tapi, saya punya satu modal yang terus saya pertahankan bersamaan dengan kenekatan itu. Ia adalah ‘pasrah’.

Pasrah bukan berarti menyerah. Bukan berarti tanpa usaha. Bukan berarti duduk termangu dan semata-mata mengharapkan keajaiban datang begitu saja dari langit. Pasrah adalah soal ‘hati’, ketika kita melakukan segala-galanya demi mengharapkan ridho Allah SWT agar ilmu yang diusahakan mati-matian itu menjadi berkah, menjadi sedekah jariyah. Pasrah adalah soal ‘berserah diri’, ketika lahir dan batin kita terkuras sementara kita tetap ikhlas dan juga yakin bahwa masa depan – pun hidup kita – ada dalam genggaman-Nya, dan yang terpenting pasrah adalah soal ‘meminta’ dan ‘memohon’ tanpa takut ditolak, tanpa perlu memutar balikkan otak tentang bagaimana Allah akan mengabulkannya karena Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Kepasrahan pastilah tetap dihantui oleh segala keraguan. Pernah terpikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, kan?

Ya Allah... Kenapa hamba mengalami begitu banyak kesulitan?
Allah menjawab: Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al-Insyirah: 6)

Ya Allah... Kenapa Engkau berikan hamba sesuatu yang hamba tidak sukai, Sementara Engkau berikan pada teman hamba apa yang ia pinta?
Allah menjawab: Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah: 216)

Ya Allah... Hamba tidak tau lagi harus berbuat apa. Hamba merasa kacau balau, panik, tak tentu arah...
Lalu Allah menjawab: Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (Ar-Ra’du: 28)

See? Itu hanya secuil pertanyaan dari ratusan pertanyaan lain dalam benak kita, yang setiap jawabannya pasti ada dalam surat cinta dari-Nya. Hayooo... Siapa yang kerjaannya cuma nangisin surat cinta dari mantan? Surat cinta dari Allah dibaca nggak? Udah dipahami? Kalau belum, baca sekarang deh ^_^  

So, jangan pernah takut do’anya ditolak. Tentukan dulu impianmu, setelah itu berusaha keras dan berdo’a. Mendekatlah kepada-Nya, Sang Maha pengasih lagi Maha Pemurah dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Memang segala kesulitan itu tak serta-merta hilang, tapi setidaknya ada kedamaian di dalam hati sampai kita menemukan kemudahan dibalik kesulitan itu. Ingat juga, Allah punya cara-Nya sendiri untuk mengabulkan do’a hamba-hamba-Nya.

Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani),yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit
-Ali bin Abi Thalib-


Syukron jazakillah buat kamu yang udah baca. Semoga bermanfa’at ya...  ^_^

Sabtu, 14 Mei 2016

Tips dan Trik Betah Nge-Jomblo



Assalamu’alaikum wr.wb

Hai sahabat seiman... ^_^

Udah lama gak nulis nih, jadi banyak banget dah yang mau diceritain. Tapi untuk sesi kali ini, saya mau cerita satu topik aja. Cerita-cerita lainnya bakal nyusul secepatnya, dan semoga kamu semua masih dengan senang hati mau baca tulisan yang sederhana ini J

O ya, sebelum saya cerita, saya mau kasih tau sedikit tentang diri saya. Ya... Sebenarnya gak penting juga sih, toh saya bukan tokoh inspiratif (Insya Allah di masa depan). Tapi, inilah yang menjadi latar belakang kuat bagi saya untuk berani menulis tentang topik ini.

Saya tipikal orang yang plegmatis, punya hobi menulis tapi tidak tergolong kreatif (kamu bisa lihat dari blog saya yang desainnya standar-standar aja), bermimpi punya banyak prestasi tapi belum terlalu terwujudkan kecuali satu prestasi yang paling berarti, yaitu berhasil menjadi ‘jomblo-ers’ hampir 22 tahun.

Pertanyaan yang paling sering dilontarkan kepada saya adalah tentang yang satu itu. Tentang ke-‘jomblo’-an saya seumur saya hidup. Kebanyakan dari mereka tidak percaya kalau saya memang tidak pernah pacaran. Mungkin begitu juga kamu. Tapi setelah menyimak beberapa hal berikut, bisa jadi kamu akan berpikir bahwa itu semua adalah hal yang masuk akal.

FAKTA SEPUTAR PACARAN
Berikut beberapa fakta tentang pacaran yang saya rangkum berdasarkan analisa pribadi dan survey yang saya lakukan selama ini. Mungkin kamu tidak akan menyetujuinya secara keseluruhan, tapi beberapa diantaranya saya pikir adalah fakta yang tak terbantahkan.

1.       Pacaran ngabisin waktu
Pacar ‘identik’ sebagai seseorang yang selalu kasih perhatian sama pasangannya. Kalau kamu punya pacar, otomatis kamu harus lebih perhatian ke dia daripada ke yang lain. Karena penyebab ter-umum dari retaknya hubungan mereka yang pacaran adalah kurangnya perhatian. Jadi, ya kamu harus ngabisin waktu ekstra untuk merhatiin dia (setidaknya mikirin), apa dia udah makan, udah tidur, atau udah bangun. Nah, ibu kamu yang udah ngandung 9 bulan, bergelimang dalam kesakitan dan penderitaan, ditanyain gituan kagak?? -_-

2.        Pacaran ngabisin duit
Berdasarkan pengamatan saya, mereka yang pacaran butuh pulsa lebih banyak, butuh duit buat traktir pasangan, minimal buat beli coklat yang pastinya harus mahalan dikit (kan buat orang tersayang). Mmm... Kira-kira itu duit jajan dari orangtua nggak ya?? Tau nggak kalau di rumah ibu sama bapaknya kerja keras banting tulang?

3.       Pacaran menguras emosi
Kenapa nggak coba?? Pacarnya akrab sama orang lain, dia cemburu. Dia akrab sama orang lain, pacarnya yang cemburu. Dekat sama ini salah, sama itu salah. Dikit-dikit berantem, gara-gara sibuk lah, kurang perhatian lah, pergi nggak bilang-bilang lah. Kan capek... L

4.       Pacaran termasuk dalam kategori ‘Mendekati Zina’
Sebagian orang berdalih bahwa pacaran yang tanpa ‘pegang-pegangan’ adalah pacaran yang aman. Apalagi yang katanya pacaran shalih, saling mengingatkan untuk shalat malam, puasa sunnah, dll yang katanya adalah untuk penyemangat dalam berbuat kebaikan. Kagak ada tuh yang begituan...!
Ingat surah Al A’raaf: 16-17
Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

Nah, zaman sekarang kan berdua-duaan nggak harus di dunia nyata, di dunia maya peluang berdua-duaan malah lebih besar. Kalau berdua-duaan, yang ketiganya siapa coba?? Oke sekarang manggil sayang-sayangan doang, komunikasi cuma buat ngingatin ibadah, habis itu bisa jadi saling membayangkan, habis itu??? Iblis udah siap-siap tuh!!!

Ingat juga surah ini:
“Dan janganlah kalian MENDEKATI zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)

Jadi paham ya.. JANGAN MENDEKAT!! TEGANGAN TINGGI!!

5.       Pacaran menjauhkan kita dari Ilmu
Orang bijak bilang, Ilmu adalah cahaya. Cahaya tidak diturunkan kepada mereka yang bermaksiat karena maksiat memadamkan cahaya. Ilmu juga diturunkan dari Allah, sementara maksiat menghalangi kita dari Allah. SO, ilmu tidak akan turun pada mereka yang bermaksiat dan pacaran adalah SALAH SATU bentuk maksiat.
Terus kenapa ada juga orang yang prestasinya meningkat sejak punya pacar ?
Nah, itulah cobaan untuk kita dalam berusaha membedakan mana yang haq, mana yang batil. Nggak mungkin kan, Allah ngasih reward ke kamu karena berbuat maksiat? -_-


Setelah ngomong panjang lebar soal Fakta Seputar Pacaran, tibalah saatnya saya mau kasih tau kamu soal Tips dan Trik biar betah buat nggak pacaran alias ‘Nge-Jomblo’. Berikut ini adalah hal-hal yang saya lakukan secara pribadi, terserah kamu mau setuju atau nggak J

1.       Jangan terlalu gampang suka/kagum sama orang lain
Dia yang menurut kamu luar biasa itu bukanlah orang yang sempurna, melainkan orang yang ditutupi aibnya oleh Allah SWT. Jadi, jangan terlalu cepat tergila-gila ya! Biasa aja.
2.       Jangan gampang bilang ‘IYA’
Nah, ini terkhusus buat kaum hawa ya. Jangan gampang bilang ‘IYA’ karena kasihan sama si dia, malah lebih kasihan dianya kalau kamu terima. Dia jadi terjerumus ke lembah maksiat. Jangan gampang bilang ‘IYA’ hanya karena kamu percaya cinta pertama si dia adalah kamu. Boleh jadi itu benar, tapi hey... Kamu belum tentu yang terakhir. Bisa jadi dia bilang hal yang sama ke cewek lain setelah bosan sama kamu -_-
3.       Jangan merasa paling ‘ngenes’
Nggak punya pasangan bukan berarti kamu menjadi orang yang tak berdaya!! Kamu bisa jadikan Allah dan orangtua sebagai motivasi terbesar dalam hidup kamu (emang seharusnya begitu). Kamu juga bisa membagi suka dan duka ke sahabat-sahabat kamu, sampai kapanpun, karena persahabatan karena Allah akan langgeng bahkan hingga ke surga.
4.       Sibukkan diri dengan hal-hal positif
Insya Allah dah, kalau kamu sibuk nggak bakalan kepikiran lagi soal cinta-cintaan. Pikiran kamu akan dipenuhi oleh visi dan misi hidup yang harus dijalankan, ratusan impian yang harus diwujudkan, juga ribuan langkah yang harus kamu tempuh untuk menjadi pribadi bermartabat baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah. Mantap nian...!!
5.       Penuhi hati dengan cinta yang suci
Kalau hati kamu udah penuh, maka tidak akan ada lagi ruang-ruang kosong yang akan disusupi setan. Yang ada di sana hanya cinta kepada Allah, cinta kepada orangtua karena Allah, cinta kepada sahabat karena Allah, cinta kepada ilmu karena Allah, dan cinta-cinta lain yang semuanya karena Allah J

Wuuuiiihh.... Kepanjangan ya?? Maaf deh...

Ada sedikit catatan penting nih, terkhusus buat sahabat sekalian yang udah paham soal haramnya pacaran dan lagi berjuang dalam kesendirian. Pastilah ada keinginan untuk secepatnya ‘membersamai’ seseorang. Tapi kamu harus ingat, banyak yang harus dipersiapkan. Kesiapan mental, pemahaman, bahkan kemapanan (terkhusus cowok) harus dipersiapkan sebaik-baiknya, karena generasi Rabbani tidak akan terbentuk dari Ibu dan Ayah yang ‘ecek-ecek’

Sing sabar ya nduk... Jodoh mah nggak kemana. Kalau nggak kamu yang nemuin dia, dia yang akan nemuin kamu

Sekian dan Terimakasih ^_^

(Bagi kamu yang udah baca tulisan ini, mohon ditinggalkan jejaknya ya... Karena like ataupun comment dari kamu adalah penyemangat bagi saya untuk dapat menulis dengan lebih baik. Semangat menebar kebaikan J)


Sabtu, 30 Januari 2016

CINTA YANG MENGUATKAN




Bismillah...

Saya teringat kebiasaan lama sewaktu SMA dulu. Hampir setiap hari, sekitar pukul 06.00 pagi saya berjalan santai menuju sebuah lapangan di pusat kota Batusangkar. Saya akan berdiri selama 5-10 menit di tempat favorit saya, di bawah pohon yang selalu berbau seperti melati. Saya hanya akan berdiri mematung untuk sekedar merasakan angin dingin menerjang wajah, menenangkan pikiran. Jika beruntung mendapati pagi yang tidak berawan, saya dapat menikmati garis-garis oranye dari timur. Namun, satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah bertemu dengan ‘Habibie-Ainun’-nya kota Batusangkar.

Mereka adalah sepasang suami istri, usianya kira-kira 65-70 tahunan. Mereka selalu bergandengan tangan, berjalan dengan sangat pelan sambil bercakap-cakap dan sesekali tertawa bersama. Si kakek tak pernah lupa memakai peci hitamnya, sementara si nenek selalu memakai kerudung putih dengan payung motif pelangi di tangan kanannya. Saya akan terus memandangi mereka berdua hingga saya tak lagi dapat melihat sosok mereka di balik lapangan. Bagi saya ini adalah pemandangan yang paling mengharukan di setiap pagi yang pernah saya lalui.

Kira-kira 1,5 tahun yang lalu saya berkesempatan untuk singgah kembali ke kota Batusangkar. Alangkah terkejutnya saya karena setelah sekian lama saya dapat melihat kembali ‘Aktris’ idola saya meskipun dari kejauhan. Namun kali ini, ‘Ainun’ tampak sendiri tanpa ‘Habibie’. Saya mengedarkan pandangan mencari sosok kakek yang dulu selalu menggandeng tangannya, tapi nihil. Saya tidak menemukan sosok yang saya kenal. Tanpa sadar napas saya terasa sesak. Rasa sedih dan kasihan menggerogoti hati saya, karena yang saya lihat kali ini bukanlah ‘Ainun’ yang dulu selalu riang, tapi ‘Ainun’ yang hilang akal di tengah keramaian karena hilangnya pegangan.

Saya pikir hidup adalah pilihan, bahkan cinta juga pilihan. Kita boleh memilih akan memiliki cinta yang seperti apa. Cinta yang menguatkan? Atau cinta yang melemahkan bahkan menghancurkan?
Menurut saya hanya ada satu CINTA yang menguatkan, yaitu cinta kepada yang ABADI. Maka tidak akan ada yang menyangkal bahwa juga hanya ada SATU yang abadi yakni Sang Pencipta, Allah SWT. Jika kita mencinta kepada yang fana, maka cinta itu akan menjadi cinta yang juga fana, dapat melemahkan bahkan menghancurkan.

Lalu apakah yang fana itu?

Saya, Anda, orangtua, keluarga, sahabat, harta kekayaan dan semua yang Allah ciptakan, kita adalah FANA. Tidak kekal, tidak abadi.
Semoga kita semua memiliki Cinta pada yang Abadi, Cinta yang Menguatkan.


Kisah ini saya tuliskan sebagai bentuk permintaan maaf sekaligus terima kasih untuk nenek saya yang baru saja meninggal dunia, yang memiliki ‘Cinta paling  Menguatkan’ hingga ia, seorang wanita tua tanpa sosok suami mampu tabah mendampingi salah satu putrinya yang juga tanpa suami dalam membesarkan 3 orang anak, yang selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia akan diberi kesempatan untuk hidup lebih lama dan dapat menggendong cicit dari saya (tapi belum bisa saya penuhi :’( )
Mohon do’a dari teman-teman pembaca agar beliau dihindarkan dari segala siksa kubur dan semua amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT. Aamiin...



Sabtu, 23 Januari 2016

Belajar dari Dani : Siswa kelas 2 SMA kelahiran '93





Assalamu’alaikum wr.wb..

Kali ini saya ingin bercerita soal seorang laki-laki yang cukup memberi insipirasi kepada saya. Ia tidak pernah memberikan saya untaian kata-kata bijak, bahkan bertemu pun kami tidak pernah. Ia sebaya dengan saya, kelahiran ’94. Tapi banyak kabar burung yang beredar bahwa ia bahkan lebih tua setahun dari saya, kelahiran ’93. Ia adalah teman akrab adik saya, sebut saja namanya Dani. Seorang siswa kelas 2 (XI) di sebuah SMA di desa tempat saya dibesarkan.

Saya rasa kita semua memiliki pikiran yang sama saat membaca prolog di atas. Ya, aneh memang. Seseorang yang berumur 21/22 tahun masih duduk bangku SMA. Padahal seharusnya ia telah berkecimpung dengan dunia perkuliahan, dunia skripsi, dunia tahun akhir. Tapi saat ini Dani masih sibuk dengan tugas-tugas sekolah dan teman-teman berseragam putih abu-abu-‘nya’.
Sebelum kita membicarakan tentang perjuangan Dani, baiknya kita mengetahui sedikit gambaran fisik dari tokoh kita ini. Saya yakin kita semua tau tentang ciri-ciri fisik para penderita autisme. Suku apapun mereka, bangsa apapun mereka, kulit hitam ataukah putih, mereka punya wajah yang hampir serupa satu sama lain, benar? Nah... saya minta Anda membayangkan Dani memiliki wajah unik seperti itu, tapi dengan mata yang sedikit lebih ‘belo’. Dani memiliki tubuh yang lebih besar dibanding teman-teman seangkatannya dan juga punya suara yang terdengar lebih nge-bass (kebapakan). Jika Anda adalah tipe orang yang suka memperhatikan orang lain secara detail dan suatu ketika punya kesempatan bertemu Dani, Anda akan mendapati Dani sebagai seorang pengguna ikat pinggang yang buruk. Ciri khas Dani yang dapat Anda ketahui adalah ia sangat sayang pada ikat pinggangnya yang bertuliskan ‘JEANS’. Saking sayangnya ia selalu ingin membaca tulisan ‘JEANS’ itu dengan baik, tak peduli orang-orang melihatnya memakai ikat pinggang dengan terbalik (tulisan ‘JEANS’ menghadap ke atas). Adik saya termasuk orang yang paling prihatin kepada Dani karena olokan teman-temannya masalah ikat pinggang itu. Berkali-kali ia coba pahamkan pada Dani bahwa caranya memakai ikat pinggang itu salah, tapi Dani tidak pernah mendengarkan. Ia selalu bangga dengan ikat pinggang ‘JEANS’-nya.
Dani adalah orang yang sangat gigih. Saya dan juga adik saya (yang nenjadi narasumber tunggal untuk cerita ini) tidak mengetahui motivasi apa yang dimiliki Dani untuk menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat Sekolah Menengah Atas. Kebanyakan dari anak-anak desa yang keluarganya juga kurang paham akan pentingnya pendidikan biasanya lebih memilih berhenti sekolah jika sudah pernah tinggal kelas 2 atau 3 kali. Mereka akan ikut dengan para pedagang ke Pekanbaru atau sekedar menjadi preman yang setiap hari minta uang kepada orangtua untuk beli rokok, berbeda dengan Dani. Ia belum kehilangan semangat belajarnya bahkan setelah tinggal kelas berkali-kali.
Dani harus menghabiskan Rp 20.000,00 dari uang sakunya untuk pulang-pergi ke sekolah dalam satu hari. Jika beruntung, ia boleh membayar Rp 7.000,00 saja untuk sampai ke sekolah, itupun kalau menumpang dengan ojek langganan. Jika sedang tidak ada uang untuk pulang, Dani tidak segan-segan berjalan kaki di bawah terik matahari untuk sampai ke rumah. Untunglah, akhir-akhir ini saya dengar Dani mendapat tumpangan dari tetangganya yang baru saja pindah ke sekolah yang sama.
Dani, dengan segala keunikannya menjadi ‘mangsa’ olokan bagi teman-temannya. Tidak hanya soal ikat pinggang, Dani pernah diolok habis-habisan karena rangkingnya di kelas. Ia menempati rangking terakhir, rangking 25 dari 25 orang siswa. Tapi taukah Anda apa yang dilakukan Dani untuk membalas olokan itu? Ia belajar dengan sekuat tenaga, membuat tugas sekolah dengan sekuat tenaga, memahami segala sesuatu dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya ia berhasil meloncat dari rangking 25 ke rangking 23, mengalahkan dua orang yang tadinya adalah ‘pengolok-olok’ setianya.
Seseorang pastinya akan lebih kuat menghadapi kehidupan yang keras jika didukung oleh orang-orang yang ia cintai, tapi tidak dengan Dani. Saya sendiri bingung dengan semangatnya yang bahkan mengalahkan semangat orang-orang yang diberi keberuntungan lebih oleh Allah, padahal ia tidak begitu mendapat dukungan bahkan dari keluarga terdekat. Contohnya saja, pernah suatu ketika Ayah Dani datang ke sekolah untuk menjemput rapor Dani. Ada denda Rp 5.000,00 yang harus dibayar (mungkin denda untuk ketidakhadiran saat classmeeting atau semacamnya) sebagai syarat pengambilan rapor. Wajarnya seorang anak, Dani meminta uang itu pada ayahnya demi menghemat uang jajan. Tapi tak sehelai pun uang yang keluar dari saku ayahnya yang seorang guru olahraga SD itu, padahal rapor tersebut sudah harus diambil. Akhirnya Dani mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan kucel dan uang koin dari dalam sakunya hingga semua uang jajannya habis tak bersisa.
Dani juga punya seorang adik laki-laki yang cerdas, tapi akhlaknya sangat buruk. Adiknya adalah seorang perokok yang seringkali memalak Dani. Sebagai seorang kakak, Dani tidak absen menasihati adiknya agar berhenti menghabiskan uang untuk hal yang merugikan itu. Alhasil, ia diabaikan dan malah diancam oleh adiknya sendiri hanya karena Dani tidak dianggap sebagai kakak yang normal. Bukan tak pernah Dani malah memecahkan celengan pribadinya karena tidak sanggup menolak permintaan adik satu-satunya. Tidak hanya itu, teman-teman Dani yang sekarang telah duduk di bangku kuliah enggan untuk berkawan dengannya, bahkan sekedar mengucapkan ‘Hai, Dani!’ hanya karena Dani dianggap tidak normal.
Jadi, apa kesimpulannya?
Kita semua pastilah tidak terlahir dengan ‘pilihan’ kita sendiri. Siapa yang bisa memilih ia akan lahir sebagai manusia ber-IQ tinggi? Dan siapa yang pernah berharap ia akan lahir dengan ‘keunikan’ dan ‘keterbatasan’?
Jika Dani membutuhkan usaha yang berkali-kali lipat lebih keras hanya untuk menyelesaikan pendidikan wajibnya, saya dan Anda telah berhasil menyingkirkan puluhan orang dengan imipian yang sama untuk 1 kursi yang kita duduki di Perguruan Tinggi Negri. Jika Dani harus berkuras tenaga hanya demi meloncat dari rangking 25 ke rangking 23 di kelasnya, saya dan Anda sudah berkuras tenaga untuk berkompetisi dengan orang-orang pilihan dari berbagai daerah dan berhasil sampai ke titik ini. Jika Dani punya semangat yang membara meskipun tidak didukung oleh orang yang ia cintai, saya dan Anda punya keluarga yang memberikan support sepenuhnya dengan motivasi yang berlimpah-ruah.

 Lalu, mengapa kita masih mengeluh? Nikmat Tuhan yang manakah yang kita dustakan?