Sabtu, 31 Desember 2016

Ah, Cinta




Aku adalah manusia penasaran yang bergentayangan dengan seribu pertanyaan, tentang sesuatu yang tak jua ku paham. Cinta. Lagi-lagi cinta.

Jawaban pertama yang telah ku dapatkan adalah tentang cinta yang tak terdefinisikan. Aku berusaha menerimanya dengan lapang dada, bahwa memang tak ada seorangpun yang dapat mengartikannya dengan pasti dan sempurna. Mengidentifikasikannya dengan ciri khas tertentu seperti nama-nama ilmiah dalam biologi, atau menjabarkannya seperti dalam rumus-rumus matematika nan panjang dan rumit. Tapi sungguh, aku lebih memilih menghapalkan ratusan nama ilmiah itu, juga menguraikan rumus-rumus rumit itu, dibanding harus memahami satu kata yang abstrak layaknya cinta.

Aku tau para pujangga. Aku juga cukup tau karya-karya mereka. Dan aku suka cara mereka menyebut-nyebut cinta. Tapi dari sepenuh hati yang ku punya, hanya sekelumit darinya yang percaya. Apalagi dengan logika yang dangkal ini, tidak sedikitpun ia yakin akan apa yang mereka kisahkan.

Bahwa cinta itu butuh pengorbanan,

Bahwa cinta itu hanya memberi tanpa menghap imbalan,

Bahwa cinta itu putih, suci, dan tanpa alasan

Bahwa cinta itu akan jatuh dimana saja ia inginkan

Dan lagi, aku belum percaya bahwa kisah klasik itu benar-benar ada, dari seorang laki-laki pada seorang perempuan atau sebaliknya, yang bahkan mereka tidak punya hubungan darah juga semacamnya.

Aku tau ini tidaklah benar. Sama artinya aku mengkerdilkan arti cinta yang begitu luas. Lalu, kenapa ini bisa terjadi begitu saja?

Ah, ya. Aku baru ingat.

Bagaimana kau bisa percaya dengan cinta, jika ternyata kau telah disakiti oleh cinta, bahkan sebelum kau benar-benar mengerti tentangnya?  

Kamis, 01 September 2016

Sahara (Black-Rose)



Yah... Akhirnya ia menuliskan ini juga. Sebut saja namanya Sahara. Berkali-kali ia menahan diri untuk tidak bercerita tentang masa lalu-nya,karena anggapan bahwa menjadi ‘buku yang terbuka’ itu tidak baik. Buku yang halaman demi halamannya bisa dibaca oleh siapa saja dengan mudah, tanpa butuh perjuangan atau pengorbanan, sehingga buku itu menjadi sesuatu yang tidak lagi istimewa. Lalu ketika bertemu dengan orang-orang yang telah membaca halaman hidupnya, mereka akan memandangnya sebagai seorang yang lain. Bagi mereka, sosoknya akan menjadi sekumpulan kisah masa lalu. Begitulah pendapat Sahara. Tapi setelah ia pikirkan lagi, tidak ada salahnya berbagi cerita. Selagi tidak membuka aib diri sendiri ataupun orang lain.

Sahara adalah anak perempuan yang lahir setahun setelah kematian kakak laki-lakinya. Seingatnya, saat kecil dulu, ia pernah bertanya tentang hal itu kepada sang ibu. Kakak laki-laki itu berkulit putih kemerahan dengan postur badan yang cukup tegap. Dia lah anak laki-laki yang lahir ke dunia tanpa sempat menangis. Dia juga yang sampai saat ini masih tetap diharapkan Sahara untuk hidup.

Iri rasanya melihat teman-teman dengan kakak laki-laki mereka. Sahara berpikir bahwa seorang kakak laki-laki adalah teman bermain paling baik bagi adik perempuannya. Ia bisa melindungi saat takut, menemani saat sendiri, menghibur saat murung, juga menasihati saat salah. Sahara ingin tau bagaimana rasanya duduk di boncengan sepedanya, bahkan Sahara ingin tau bagaimana rasanya saat rambutnya diacak-acak dengan usil. Tapi sudahlah. Sahara hanya bisa berharap bertemu dengannya di syurga kelak.

Masa kecilnya kemudian dihabiskan bersama kakak laki-laki yang lain. Mereka adalah teman kanak-kanak yang riang. Sahara tidak tau apa yang membuat mereka rajin mengunjunginya ke rumah, mengajaknya bermain meski ujung-ujungnya hanya menjadi ‘anak bawang’. Saat pergi ke rumah nenek pun, Sahara menjadi gadis kecil yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh kakak laki-laki dari keluarga ayahnya. Meskipun begitu, ia tidak sedikitpun lupa bahwa mereka semua tetaplah bukan kakak laki-lakinya.

Mungkin itulah yang membuat Sahara terbiasa dengan teman laki-laki. Ia tidak terlalu ambil pusing ketika banyak teman laki-laki berkunjung ke rumah, atau ketika tanpa disengaja ia berada dalam kondisi dimana ialah satu-satunya perempuan di antara beberapa teman laki-laki. Orangtuanya juga tidak mempermasalahkan, selagi teman laki-lakinya itu mengerti adab dan batasan dalam bergaul. Tidak boleh berkunjung sendirian, tidak boleh juga ada sentuhan. Hingga pada puncaknya, Sahara lebih suka bergaya seperti laki-laki daripada perempuan.

Saat di bangku SMP dulu, ia adalah seorang gadis separo boyish (tomboy) penggemar nuansa serba hitam. Ya, hanya separo karena ia masih tetap menggunakan jilbab. Jilbab ‘sekedarnya’ yang masih ia pakai hanya karena ia sadar bahwa ia adalah cucu dari seorang guru mengaji dan keponakan dari seorang ulama. Hanya itu. Selebihnya tidak ia pedulikan. Ia tidak memiliki sehelai rok pun selain rok sekolah, dan ia adalah yang pertama kali tertawa ketika teman perempuannya mencoba menjadi gadis yang anggun. 

Tapi semuanya berubah setelah ia duduk di bangku SMA. Memilih bersekolah di salah satu SMA yang cukup jauh dari rumah memaksa ia harus hidup sebagai anak kos.Tinggal serumah dengan teman baru yang belum pernah ia kenal. Beradaptasi dengan watak baru dan kebiasaan baru menjadikannya pribadi yang sedikit berbeda. Dan disaat itulah, Sahara mulai menemukannya. Sesuatu yang di kemudian hari menjadi yang ‘termanis’ bagi Sahara, meskipun pada awalnya sesuatu itu memperkenalkan wujudnya sebagai serangkaian pesakitan dan penderitaan.


BERSAMBUNG


Jumat, 19 Agustus 2016

Dini Hari dalam Kelam



Pada awalnya aku tidak berniat sama sekali menulis tentang ini. Aku tersentak pukul 2 pagi, menyelesaikan semua kegiatan peribadatan, lalu bertekad melanjutkan tulisan-tulisan yang sudah kugeluti selama berminggu-minggu. Tulisan yang membuat kemampuan bersastraku yang minim ini menjadi semakin berkurang. Ya, itulah skripsi. Hanya penuh dengan analisa dan landasan teori. Tapi, sebelum melanjutkan tekad tersebut iseng-iseng ku aktifkan wifi lalu ku buka akun facebook-ku, siapa tau ada kabar yang cukup penting.

Tak lama men-scroll  beranda fb, aku menemukan tulisan salah seorang seniorku di kampus. Beliau tidak satu jurusan denganku, tapi sedikit banyaknya aku tau tentang beliau. Pemuda yang sering wara-wiri di hampir setiap kegiatan kampus, terkenal menginspirasi dan sangat bersemangat. Beliau juga punya banyak prestasi yang mungkin tidak lagi terhitung dengan jari. Dan hei, siapa yang tidak akan kenal dengannya? (paling-paling ia yang tidak kenal denganku). Tapi sungguh, ini bukan soal pribadi beliau. Ini soal kehidupan masa lalunya yang ternyata begitu luar biasa. Aku tidak pernah menyangka akan mendengar (red: membaca) kisah se-menyedihkan itu dari orang yang berada di sekitarku. Kisah yang sering kutemui di novel-novelnya Andrea Hirata yang selama ini ku anggap hanya fiksi belaka. Fix, seniorku dan tulisannya itu berhasil membuat mataku berkaca-kaca.

Beberapa menit kemudian aku telah menyelesaikan membaca tiga atau empat tulisan beliau di blognya. Aku kembali ke beranda fb, men-scroll lagi ke bawah. Aku menemukan sebuah video yang dibagikan oleh temanku. Ia memberi sedikit komentar pada video itu hanya dengan satu kata, ‘heartbreaking’. Video itu tentang serangan di Syria dan seorang bocah kecil bernama Omran yang selamat dari kematian. Ia hanya terduduk di kursi setelah diselamatkan oleh para relawan dan terdiam tanpa air mata, sedikitpun. Sesekali ia menyeka darah yang mengalir di dahinya lalu kebingungan harus membersihkan tangannya dimana, hingga akhirnya tangan yang berlumuran darah itu digosokkannya ke kursi tempat ia duduk. Oh Omran, kau berhasil membuat air mataku tumpah-ruah dini hari ini.

Seketika aku tersadar, bahwa sejatinya aku tidak lebih dari siapapun. Aku hanya seorang gadis beruntung yang diberi kesempatan untuk belajar dari pengalaman hidup orang-orang luar biasa. Aku bisa merasakan kesedihan, kesempitan, kesakitan dan luka yang sangat mendalam tanpa harus ditimpakan. Hanya ada 2 kisah yang cukup menyakitkan bagiku selama aku hidup. Pertama, dilupakan oleh seseorang yang ku anggap cinta pertama (padahal mungkin itu hanya cinta monyet yang dibumbui penghayatan seperti cerita cinta dalam sinetron). Kedua, merasa tidak dianggap selama tiga tahun di SMA. Hanya itu, dan aku merasa seolah-olah hidup tidaklah adil. Padahal sebenarnya, ujian ku belum sepersekian dari ujian mereka, dan sebenarnya di luar sana banyak orang-orang hebat yang menjadi hebat karena kesabarannya dalam menghadapi ujian yang luar biasa berat.

Maka tidak ada lagi alasan bagiku untuk berkeluh kesah. Alasan yang ada hanyalah tentang bagaimana rasa simpati ini terus-menerus tumbuh, dan bagaimana caranya agar kebahagiaan dan keberuntungan yang ku miliki sekarang dirasakan oleh banyak orang, sebagaimana kesedihan dan kesakitan mereka memberiku banyak pelajaran. Jika tetap saja sibuk berkeluh kesah, mungkin aku – atau juga kita – akan gagal mejadi manusia.

Terimakasih untuk semua tulisan-tulisan kalian. Terimakasih sudah bersedia berbagi pengalaman.



Padang, dini hari dalam kelam 
Ditemani alarm teman-teman kos yang silih berganti berbunyi tanpa mampu membangunkan

Kamis, 02 Juni 2016

'Hujan Bulan Juni'-ku




Ialah yang pertama kali datang. Ia menyusup ke dalam relung hatiku yang terdalam dengan perlahan serta membawa kedamaian. Aku bisa saja bertingkah bodoh di depannya tanpa sedikitpun rasa malu. Aku bisa saja berpura-pura menjadi wanita lemah yang selalu butuh pertolongan. Aku juga bisa berpura-pura membutuhkan izin darinya untuk melakukan sesuatu, lalu malah bersemu merah saat ia melarangku melakukannya hanya demi keselamatan atau kebahagiaan diriku. Dan ternyata ia hanya ‘angin musim gugur’-ku. Berhembus pelan, memberikan kesejukan, tapi lama kelamaan membuatku menggigil dan sulit bertahan. Aku baru tersadar saat pada akhirnya ia memilih orang lain dan meninggalkan aku sebagai orang yang selama ini ‘dikasihani’. Ia memang tidak memilihku. Tidak pernah.

Lalu datang lagi seseorang dengan berjuta impian. Ia yang selalu menguatkanku dan mengangkatku sebagai wanita yang kuat, wanita yang harus selalu menatap ke depan. Ia yang selalu menyemangatiku untuk mengejar impian tanpa peduli dengan rintangan yang menghadang. Ia yang mengubah setiap sendi-sendi tubuhku menjadi kerangka yang kokoh dan mengaliri setiap nadiku dengan pengharapan. Lalu apa? Ternyata ia hanya ‘pelangi sore hari’-ku, menghilang begitu saja setelah milyaran bintang-gemintang nan cantik memenuhi langit. Ia juga tidak memilihku.




Dan yang terparah adalah kamu, ‘hujan bulan Juni’-ku. Tak peduli aku dengan seberapa puitisnya para pujangga memujamu atas rintikmu yang katanya penuh rindu. Yang ku lihat saat ini hanyalah hujan badai yang menakutkan seakan-akan mampu memporak-porandakan segalanya. Aku tidak akan membiarkanmu membasahi celah-celah hatiku. Tidak untuknya yang telah lama hancur, remuk-redam. Tidak pernah berani aku memintamu dalam do’a, menyebut-nyebut namamu di hadapan-Nya, ataupun sekedar berkhayal bahwa kita akan bersama. Aku tidak akan membiarkan benih-benih itu tumbuh. Aku tidak siap jika ternyata kamu ditakdirkan menjadi ‘hujan bulan Juni’-ku yang turun bersama badai, lagi-lagi membuatku luluh lantak.


Benarlah kata orang bijak bahwa harapan beriringan dengan kekecawaan. Sebanyak apa kamu berani berharap, sebanyak itu pula kamu bersiap untuk kecewa. Lalu jangan sangka bahwa memendam rasa adalah perkara yang mudah, akan tetapi perkara yang senantiasa dibayang-bayangi rasa sakit atas kekecewaan yang menghujam. Maka cukuplah jika benih yang tumbuh hanya akan menjadi pohon keimanan yang kokoh kepada Allah, Sang Maha Pengasih. Cukuplah jika benih yang tumbuh hanya akan menghasilkan buah-buah manis kecintaan kepada Allah, Sang Maha Penyayang. Cukuplah jika air mata yang jatuh hanya karena memohon ampunan kepada Allah, Sang Maha Pengampun. Cukuplah jika aku hanya meminta seseorang yang mencintai Allah selayaknya aku mencintai-Nya, tidak harus kamu, tidak pula dia.

Sabtu, 28 Mei 2016

Gadis Tanpa Nama



         Namaku Sinta, mahasiswi semester IV di salah satu Fakultas Kedokteran ternama di Indonesia. Aku bukanlah gadis manja yang dengan lapang dada berkutat di sekeliling rumah atau sekedar berkarir di kota kelahiran, tapi aku adalah gadis dengan jiwa petualang. 
       Kala itu bulan September. Aku baru saja memenangkan sebuah perlombaan karya ilmiah tingkat nasional. Aku mempercepat langkahku menuju rumah demi memberitahukan kabar gembira ini kepada keluargaku.
       “Ayah...! Ibu...! Aku menang lagi.” Aku bersorak riang dan memeluk pundak kedua orangtuaku dari arah belakang.
       “Coba ayah lihat.” Ayah mengambil sertifikat dari tanganku lalu mangguk-mangguk takjub bersama ibu. “Alhamdulillah. Kami sangat bangga padamu, nak.” Mereka mengusap-ngusap kepalaku.
       Seribu kali sayang, kebahagiaan ini tidak berlangsung lama. Aku mendengar gemerincing lampu kristal. Aku juga merasakan tanah di bawah kakiku bergerak, semakin lama semakin cepat hingga aku kesulitan untuk berdiri. Kalimat takbir tak hentinya keluar dari mulut ayah dan ibu saat menarik lenganku dan mengajakku untuk segera keluar dari ruangan. Aku pun berlari mengikuti mereka namun Allah berkehendak lain.
       Kakiku terkilir. Segelas air yang tumpah di atas lantai membuatku terjerembab. Aku tidak bisa bergerak sedikitpun. Berkali-kali aku mencoba memanggil kedua orangtuaku yang sekarang sudah berada di tempat yang aman, tapi nihil. Mereka tidak mendengar bahkan tidak menyadari bahwa aku tidak bersama mereka.
       Aku melihat atap rumah rubuh menimpaku, kemudian semuanya menjadi gelap.

       “Ibu... Aku dimana?” tanyaku saat baru saja membuka mata. Ruangan luas ini amat asing bagiku dan tak ada yang kukenali di ruangan ini selain ibu.
       “Kau di rumah sakit, nak.”
       Aku terdiam untuk beberapa saat. Aku tidak ingat apa yang terjadi padaku hingga aku harus tergeletak di sini. Aku juga menyadari bahwa mata ibu sembab dan suaranya tertahan meskipun ia tampak berusaha keras untuk tersenyum.
       Rasa penat tiba-tiba menjalar di punggungku dan memaksaku untuk berdiri. Aku menyibakkan selimut dari tubuhku dan mencoba menurunkan kedua kakiku. Tapi tidak, yang kudapati adalah mimpi buruk.
       “Ibu!!! Ada apa dengan kakiku?” Aku meraung, tidak percaya dengan penglihatanku sendiri.
       “Tidak apa-apa, nak. Semuanya akan baik-baik saja.” Ibuku segera merangkul pundakku dan berusaha menyemangatiku.
       “Apanya yang baik, bu?? Lihat ini!!” Aku memukul-mukul pahaku. “Aku kehilangan kedua kakiku!”
       Ibuku terdiam. Ia hanya bisa menangis bersamaku. Ia terus mengelus-elus rambutku sampai aku tak berdaya lagi mengeluarkan air mata. Aku tau bahwa sepahit apapun aku harus menerima kenyataan ini, tapi otakku menolak.
       Aku terpuruk. Tidak ada lagi yang lebih kubenci selain diriku sendiri dan kursi roda ini.
     Hari-hari terus berlalu tanpa mempedulikan perasaanku. Keputusasaan akhirnya menenggelamkanku dalam kesedihan dan berhasil membawaku ke dalam jurang yang lebih dalam. Aku berpikir bahwa keberadaanku di dunia ini hanya dalam kesia-siaan, karena bagiku hidup tak berguna jika tanpa impian yang bisa diwujudkan. Diam-diam aku mendorong kursi rodaku ke tepi jurang di belakang rumah dan berharap tidak dapat merasakan apa-apa lagi. 
     “Berhenti!!” perintahku pada seorang gadis yang tiba-tiba kulihat berjalan lurus ke tepi jurang. Aku segera membelokkan kursi rodaku ke arahnya lalu menarik tangannya tanpa peduli lagi dengan niatku sebelumnya.
       “Ada apa?” Ia malah bertanya seperti tidak tau apa-apa.
       “Di depan sana ada jurang. Jika kau jalan terus kau bisa mati.” Aku lalu memperhatikannya dengan seksama. “Kau buta?”
       “Iya.” Gadis itu mengangguk dan tersipu malu. “Maaf telah merepotkan.”
       Kami berdua berjalan menjauhi tepi jurang menuju sebuah pondok kecil yang agak jauh dari sini. Aku sampai terlebih dulu di pondok saat rintik hujan mulai turun.
       “Hey! Apa yang kau lakukan di sana? Ayo masuk!” Aku berusaha mengajaknya yang tidak ikut bersamaku.
       “Tunggu sebentar.” Ia malah menengadahkan wajahnya ke langit dan membiarkannya basah. Aku semakin heran melihat tingkahnya. Ia baru berteduh bersamaku saat hujan semakin deras.
       “Suka hujan?” Aku mencoba bertanya dengan seramah mungkin.
       “Sangat suka. Hujan membuat wajahku terasa dingin.” Ia memegangi kedua pipinya.“Kau bisa ceritakan padaku bagaimana rupanya?” Ia bertanya penuh semangat.
       “Kau... Tidak pernah melihat hujan?” Aku gugup sekaligus keheranan.
       “Tidak. Aku buta sejak lahir.”
       Aku tersentak, tidak tau harus berkata apa. Bagiku hujan tidak seberarti ini.    
      “Sebelum hujan turun kau akan melihat awan mendung menggelantung di langit, menutupi matahari hingga membuat semuanya tampak lebih gelap. Ia akan turun perlahan-lahan, sedikit demi sedikit lalu semakin banyak,” jelasku terbata-bata.
       “Benarkah? Lalu pelangi itu seperti apa?” Ia semakin bersemangat.
       Aku berpikir sesaat untuk mencari kata-kata yang tepat. “Ia punya tujuh warna yang tersusun dalam setengah lingkaran dan muncul setelah hujan. Kau tidak pernah bisa melihat kedua ujungnya.”
       “Wahh... Aku tidak sabar melihatnya.” Ia bertepuk-tepuk girang dengan wajah berseri-seri.
       “Kau yakin bisa melihatnya?” Aku bertanya tanpa sedikitpun berniat menghancurkan harapannya.
       “Pasti. Suatu saat. Walaupun sesaat.” Ia tersenyum tanpa menoleh padaku. “Kau punya impian apa?”
       “Aku... Ingin menjadi seorang dokter,” jawabku malu-malu.
       “Wah! Luar biasa. Kau harus semangat, ya! Aku yakin kau tidak akan menyerah dalam kondisi apapun. Lewat tanganmulah Allah akan menyelematkan hamba-Nya.” Ia menepuk pundak kananku.
       Aku tertunduk. Hampir saja aku kalah dari gadis ini. Gadis buta yang hanya bermimpi melihat pelangi. Lihatlah wahai gadis tanpa nama, akulah yang akan mengobatimu kelak.

-THE END-   

Kamis, 26 Mei 2016

Jangan Takut Ditolak (Dekati Dia!)



Assalamu’alaikum wr.wb...

Kayfa haalukum? Semoga kalian semua selalu dalam keadaan sehat
Kira-kira, ada yang merasa tertipu dengan judul di atas? Kalau iya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini bukan soal ‘dia’ yang sering kamu kode di media sosial, bukan soal ‘dia’ yang sedang kamu tunggu, bukan juga soal ‘dia’ yang selalu kamu sebut dalam do’a-do’amu. Ini lebih dari itu. Ini soal ‘Dia’ Sang Maha Segalanya. Kalau kamu nyesel udah buka blog ini (karena ternyata tulisan ini tidak akan membahas soal cinta-cintaan), ya legowo aja. Insya Allah bermanfa’at. ^_^

Saya tergerak untuk menulis tentang ini karena saya rasa beberapa hari ini saya sering mendapatkan ‘keajaiban’. ‘Keajaiban’ yang membuat saya lupa bahwa sebelumnya saya pernah merasa panik, tidak tau jalan keluar, bahkan hampir ingin menyerah. Ia dititipkan Allah pada orang-orang baik di sekitar saya, pada teman-teman dekat maupun pada orang yang baru saya kenal. Masya Allah...

Semuanya berawal dari sebuah proposal penelitian yang saya sodorkan di akhir semester kemarin, yang dalam beberapa waktu lalu baru diizinkan untuk diseminarkan. Saya ingin menyebut proposal ini sebagai hal ‘ternekat’ yang pernah saya lakukan. Karena apa? I have nothing to do that!!! Saya hanya berusaha memperjuangkan apa yang saya sukai dan tidak mau pindah ke lain hati. Eh, ke lain tema maksudnya. Agaknya saya termasuk tipe orang yang susah move-on sehingga tidak ada tema apapun – selain tema yang saya geluti saat ini – yang mampu menaklukkan hati dan pikiran saya. Tapi, saya punya satu modal yang terus saya pertahankan bersamaan dengan kenekatan itu. Ia adalah ‘pasrah’.

Pasrah bukan berarti menyerah. Bukan berarti tanpa usaha. Bukan berarti duduk termangu dan semata-mata mengharapkan keajaiban datang begitu saja dari langit. Pasrah adalah soal ‘hati’, ketika kita melakukan segala-galanya demi mengharapkan ridho Allah SWT agar ilmu yang diusahakan mati-matian itu menjadi berkah, menjadi sedekah jariyah. Pasrah adalah soal ‘berserah diri’, ketika lahir dan batin kita terkuras sementara kita tetap ikhlas dan juga yakin bahwa masa depan – pun hidup kita – ada dalam genggaman-Nya, dan yang terpenting pasrah adalah soal ‘meminta’ dan ‘memohon’ tanpa takut ditolak, tanpa perlu memutar balikkan otak tentang bagaimana Allah akan mengabulkannya karena Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Kepasrahan pastilah tetap dihantui oleh segala keraguan. Pernah terpikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, kan?

Ya Allah... Kenapa hamba mengalami begitu banyak kesulitan?
Allah menjawab: Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al-Insyirah: 6)

Ya Allah... Kenapa Engkau berikan hamba sesuatu yang hamba tidak sukai, Sementara Engkau berikan pada teman hamba apa yang ia pinta?
Allah menjawab: Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah: 216)

Ya Allah... Hamba tidak tau lagi harus berbuat apa. Hamba merasa kacau balau, panik, tak tentu arah...
Lalu Allah menjawab: Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (Ar-Ra’du: 28)

See? Itu hanya secuil pertanyaan dari ratusan pertanyaan lain dalam benak kita, yang setiap jawabannya pasti ada dalam surat cinta dari-Nya. Hayooo... Siapa yang kerjaannya cuma nangisin surat cinta dari mantan? Surat cinta dari Allah dibaca nggak? Udah dipahami? Kalau belum, baca sekarang deh ^_^  

So, jangan pernah takut do’anya ditolak. Tentukan dulu impianmu, setelah itu berusaha keras dan berdo’a. Mendekatlah kepada-Nya, Sang Maha pengasih lagi Maha Pemurah dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Memang segala kesulitan itu tak serta-merta hilang, tapi setidaknya ada kedamaian di dalam hati sampai kita menemukan kemudahan dibalik kesulitan itu. Ingat juga, Allah punya cara-Nya sendiri untuk mengabulkan do’a hamba-hamba-Nya.

Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani),yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit
-Ali bin Abi Thalib-


Syukron jazakillah buat kamu yang udah baca. Semoga bermanfa’at ya...  ^_^

Sabtu, 14 Mei 2016

Tips dan Trik Betah Nge-Jomblo



Assalamu’alaikum wr.wb

Hai sahabat seiman... ^_^

Udah lama gak nulis nih, jadi banyak banget dah yang mau diceritain. Tapi untuk sesi kali ini, saya mau cerita satu topik aja. Cerita-cerita lainnya bakal nyusul secepatnya, dan semoga kamu semua masih dengan senang hati mau baca tulisan yang sederhana ini J

O ya, sebelum saya cerita, saya mau kasih tau sedikit tentang diri saya. Ya... Sebenarnya gak penting juga sih, toh saya bukan tokoh inspiratif (Insya Allah di masa depan). Tapi, inilah yang menjadi latar belakang kuat bagi saya untuk berani menulis tentang topik ini.

Saya tipikal orang yang plegmatis, punya hobi menulis tapi tidak tergolong kreatif (kamu bisa lihat dari blog saya yang desainnya standar-standar aja), bermimpi punya banyak prestasi tapi belum terlalu terwujudkan kecuali satu prestasi yang paling berarti, yaitu berhasil menjadi ‘jomblo-ers’ hampir 22 tahun.

Pertanyaan yang paling sering dilontarkan kepada saya adalah tentang yang satu itu. Tentang ke-‘jomblo’-an saya seumur saya hidup. Kebanyakan dari mereka tidak percaya kalau saya memang tidak pernah pacaran. Mungkin begitu juga kamu. Tapi setelah menyimak beberapa hal berikut, bisa jadi kamu akan berpikir bahwa itu semua adalah hal yang masuk akal.

FAKTA SEPUTAR PACARAN
Berikut beberapa fakta tentang pacaran yang saya rangkum berdasarkan analisa pribadi dan survey yang saya lakukan selama ini. Mungkin kamu tidak akan menyetujuinya secara keseluruhan, tapi beberapa diantaranya saya pikir adalah fakta yang tak terbantahkan.

1.       Pacaran ngabisin waktu
Pacar ‘identik’ sebagai seseorang yang selalu kasih perhatian sama pasangannya. Kalau kamu punya pacar, otomatis kamu harus lebih perhatian ke dia daripada ke yang lain. Karena penyebab ter-umum dari retaknya hubungan mereka yang pacaran adalah kurangnya perhatian. Jadi, ya kamu harus ngabisin waktu ekstra untuk merhatiin dia (setidaknya mikirin), apa dia udah makan, udah tidur, atau udah bangun. Nah, ibu kamu yang udah ngandung 9 bulan, bergelimang dalam kesakitan dan penderitaan, ditanyain gituan kagak?? -_-

2.        Pacaran ngabisin duit
Berdasarkan pengamatan saya, mereka yang pacaran butuh pulsa lebih banyak, butuh duit buat traktir pasangan, minimal buat beli coklat yang pastinya harus mahalan dikit (kan buat orang tersayang). Mmm... Kira-kira itu duit jajan dari orangtua nggak ya?? Tau nggak kalau di rumah ibu sama bapaknya kerja keras banting tulang?

3.       Pacaran menguras emosi
Kenapa nggak coba?? Pacarnya akrab sama orang lain, dia cemburu. Dia akrab sama orang lain, pacarnya yang cemburu. Dekat sama ini salah, sama itu salah. Dikit-dikit berantem, gara-gara sibuk lah, kurang perhatian lah, pergi nggak bilang-bilang lah. Kan capek... L

4.       Pacaran termasuk dalam kategori ‘Mendekati Zina’
Sebagian orang berdalih bahwa pacaran yang tanpa ‘pegang-pegangan’ adalah pacaran yang aman. Apalagi yang katanya pacaran shalih, saling mengingatkan untuk shalat malam, puasa sunnah, dll yang katanya adalah untuk penyemangat dalam berbuat kebaikan. Kagak ada tuh yang begituan...!
Ingat surah Al A’raaf: 16-17
Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

Nah, zaman sekarang kan berdua-duaan nggak harus di dunia nyata, di dunia maya peluang berdua-duaan malah lebih besar. Kalau berdua-duaan, yang ketiganya siapa coba?? Oke sekarang manggil sayang-sayangan doang, komunikasi cuma buat ngingatin ibadah, habis itu bisa jadi saling membayangkan, habis itu??? Iblis udah siap-siap tuh!!!

Ingat juga surah ini:
“Dan janganlah kalian MENDEKATI zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)

Jadi paham ya.. JANGAN MENDEKAT!! TEGANGAN TINGGI!!

5.       Pacaran menjauhkan kita dari Ilmu
Orang bijak bilang, Ilmu adalah cahaya. Cahaya tidak diturunkan kepada mereka yang bermaksiat karena maksiat memadamkan cahaya. Ilmu juga diturunkan dari Allah, sementara maksiat menghalangi kita dari Allah. SO, ilmu tidak akan turun pada mereka yang bermaksiat dan pacaran adalah SALAH SATU bentuk maksiat.
Terus kenapa ada juga orang yang prestasinya meningkat sejak punya pacar ?
Nah, itulah cobaan untuk kita dalam berusaha membedakan mana yang haq, mana yang batil. Nggak mungkin kan, Allah ngasih reward ke kamu karena berbuat maksiat? -_-


Setelah ngomong panjang lebar soal Fakta Seputar Pacaran, tibalah saatnya saya mau kasih tau kamu soal Tips dan Trik biar betah buat nggak pacaran alias ‘Nge-Jomblo’. Berikut ini adalah hal-hal yang saya lakukan secara pribadi, terserah kamu mau setuju atau nggak J

1.       Jangan terlalu gampang suka/kagum sama orang lain
Dia yang menurut kamu luar biasa itu bukanlah orang yang sempurna, melainkan orang yang ditutupi aibnya oleh Allah SWT. Jadi, jangan terlalu cepat tergila-gila ya! Biasa aja.
2.       Jangan gampang bilang ‘IYA’
Nah, ini terkhusus buat kaum hawa ya. Jangan gampang bilang ‘IYA’ karena kasihan sama si dia, malah lebih kasihan dianya kalau kamu terima. Dia jadi terjerumus ke lembah maksiat. Jangan gampang bilang ‘IYA’ hanya karena kamu percaya cinta pertama si dia adalah kamu. Boleh jadi itu benar, tapi hey... Kamu belum tentu yang terakhir. Bisa jadi dia bilang hal yang sama ke cewek lain setelah bosan sama kamu -_-
3.       Jangan merasa paling ‘ngenes’
Nggak punya pasangan bukan berarti kamu menjadi orang yang tak berdaya!! Kamu bisa jadikan Allah dan orangtua sebagai motivasi terbesar dalam hidup kamu (emang seharusnya begitu). Kamu juga bisa membagi suka dan duka ke sahabat-sahabat kamu, sampai kapanpun, karena persahabatan karena Allah akan langgeng bahkan hingga ke surga.
4.       Sibukkan diri dengan hal-hal positif
Insya Allah dah, kalau kamu sibuk nggak bakalan kepikiran lagi soal cinta-cintaan. Pikiran kamu akan dipenuhi oleh visi dan misi hidup yang harus dijalankan, ratusan impian yang harus diwujudkan, juga ribuan langkah yang harus kamu tempuh untuk menjadi pribadi bermartabat baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah. Mantap nian...!!
5.       Penuhi hati dengan cinta yang suci
Kalau hati kamu udah penuh, maka tidak akan ada lagi ruang-ruang kosong yang akan disusupi setan. Yang ada di sana hanya cinta kepada Allah, cinta kepada orangtua karena Allah, cinta kepada sahabat karena Allah, cinta kepada ilmu karena Allah, dan cinta-cinta lain yang semuanya karena Allah J

Wuuuiiihh.... Kepanjangan ya?? Maaf deh...

Ada sedikit catatan penting nih, terkhusus buat sahabat sekalian yang udah paham soal haramnya pacaran dan lagi berjuang dalam kesendirian. Pastilah ada keinginan untuk secepatnya ‘membersamai’ seseorang. Tapi kamu harus ingat, banyak yang harus dipersiapkan. Kesiapan mental, pemahaman, bahkan kemapanan (terkhusus cowok) harus dipersiapkan sebaik-baiknya, karena generasi Rabbani tidak akan terbentuk dari Ibu dan Ayah yang ‘ecek-ecek’

Sing sabar ya nduk... Jodoh mah nggak kemana. Kalau nggak kamu yang nemuin dia, dia yang akan nemuin kamu

Sekian dan Terimakasih ^_^

(Bagi kamu yang udah baca tulisan ini, mohon ditinggalkan jejaknya ya... Karena like ataupun comment dari kamu adalah penyemangat bagi saya untuk dapat menulis dengan lebih baik. Semangat menebar kebaikan J)